Sementara Kapolres Nabire Samuel D. Tatiratu dalam pertemuan itu menyampaikan dari sisi aparat keamanan dan pemerintah sudah siap dan meminta kepada seluruh tokoh masyarakat, kepala suku untuk menyikapi situasi ini dengan turun bersama-sama berada di lapangan bersama aparat keamanan memberikan himbauan kepada masing-masing masyarakat  untuk tidak melakukan aksi agar dapat meminimalisir terjadinya kelumpuhkan Kota Nabire. Selain itu dapat membatasi aksi-aksi mereka yang mungkin ditunggangi oleh oknum-oknum yang sengaja menginginkan situasi menjadi keos.

Mantan Kasat Lantas Polres Mimika ini juga membuka mengenai situasi yang terjadi di Kabupaten Dogiyai di hadapan peserta rapat. Bahwa persoalan di Dogiyai hinggga saat ini masih dalam rana penyidikan dan penyelidikan.

Ia mengatakan fakta yang sudah tidak bisa terbantahkan ketiga anggota Polri menjadi korban, sesuai bukti fisik wajah mayatnya dilihat jelas.

Ia menyebutkan korban anggota polisi atas nama Edowai kasusnya kini langsung ditangani Tim Kuasa Mabes Polri. Anggota kedua sementara menjalani perawatan dan anggota ketiga terkena panah sedalam 20 centi dalam kondisi kritis di rumah sakit di Jayapura.

“Jadi yang kita baca ada sepuluh, ada enam, ada empat korban yang saat ini tinggal di Dogiyai, fakta itu belum bisa kita bilang hoaks, tidak bisa itu benar, karena fakta yang ada hanya ada di media sosial,” tegas Tatiratu.

Tatiratu mengungkapkan, Bupati Dogiyai saat tiba di Nabire dari Jakarta yang dijemput oleh dirinya bersama Wakapolda langsung menuju ruangan kerja Gubernur Papua Tengah untuk rapat bersama Forkompinda. Di situ sudah disampaikan meminta Bupati dan Wakil Bupati Dogiyai bersama DPRK harus bisa memastikan dan menunjukan bukti fisik korban yang disampaikan enam orang, sepuluh orang dan empat orang. Karena rumah sakit Dogiyai, Paniai, Deiyai dan Nabire semua kosong.

“Lalu ke mana mereka-mereka yang dibilang. Maka saya minta kepada sekalian, mohon sampaikan kepada anggota jangan mudah terprovokasi,” kata Tatiratu.  **