Dengar Papan Kayu Bicara: Catatan Refleksi dari Tanah PSN – Papua Selatan
Di sisi lain, Uskup Agung Merauke menyatakan dukungan terhadapm program cetak sawah sebagai proyek kemanusiaan untuk memanusiakan rakyat Papua. Dalam kacamata pastoral, ini adalah pernyataan yang lahir dari keprihatinan antropologis juga: orang harus makan, harus kenyang, harus hidup layak.
Dalam antropologi pembangunan (John Galtung) ini disebut pendekatan human needs atau survival needs: pangan sebagai kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Dari sudut pandang ini, cetak sawah dibaca sebagai jawaban atas kerentanan pangan, ketergantungan logistik, dan kemiskinan struktural.
Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya terletak pada perbedaan kerangka makna (frame of meaning). Bagi negara dan pembangunan modern, tanah adalah lahan produksi. Bagi masyarakat adat, tanah adalah subjek moral. Ketika dua kerangka ini bertemu tanpa jembatan tafsir, yang terjadi adalah kesalahpahaman struktural, bukan saja konflik kepentingan.
Di Antara Dua Suara
Gereja, secara antropologi, selalu hidup di antara dua dunia: dunai struktur (negara, hukum, kebijakan), dan dunia simbol (iman, tanah, penderitaan, harapan). Laudato Si menamai ini dengan terang: ekologi integral.
Paus Fransiskus menolak pemisahan antara jeritan bumi dan jeritan orang miskin. Antropologi Gereja bukan hanya soal manusia lapar, tetapi juga manusia yang tercerabut dari relasi hidupnya. Maka pertanyaan pastoralnya bukan “Apakah cetak sawah itu baik atau buruk?, melainkan “Apakah proyek ini lahir dari relasi yang adil dengan makna tanah menurut masyarakat adat?” Jika papan kayu itu berdiri, itu tanda bahwa relasi itu belum pulih.
Suara Kenabian: Berbicara dari bawah
Dalam teologi politik J.B Metz, iman kristen selalu memiliki memoria passionis: ingatan akan penderitaan konkret. Gereja kehilangan suara kenabiannya bukan ketika ia salah secara niat, tetapi ketika ia terlalu cepat mengadopsi bahasa penguasa tanpa terlebih dahulu menyerap bahasa korban.
Papan kayu Kwipalo adalah memoria pasionis dalam bentuk paling sederhana. Ia tidak mengutip dokumen. Ia tidak berbicara teologi, hukum atau kanon gereja (Codex Iuris Canonici). Pun pula ia tidak mengutip pasal dan ayat dalam kitab suci. Yang tampil di papan itu adalah ingatan akan ketimpangan relasi. BAGAIMANA MUNGKIN GEREJA BISA DIAM, ATAU MEMALINGKAN MUKA!!!!
Maka tugas Gereja secara antropologi dan pastoral bukan memilih salah satu suara dan membungkam yang lain, melainkan menjadi PENERJEMAH MAKNA, yaitu:
- Menerjemahkan kebutuhan pangan ke dalam bahasa adat;
- Menerjemahkan penolakan adat ke dalam bahasa kebijakan.
Dari Papan Kayu ke Pertobatan Relasional
Jika kita membaca papan itu hanya sejauh penolakan, kita gagal secara antropologi. Jika kita membaca pernyataan uskup sebagai legitimasi buta, kita gagal secara teologi. Maka, yang dibutuhkan adalah pertobatan relasional: mengubah cara hadir, cara mendengar, dan cara memaknai.
Karena di Papua, kemanusiaan tidak pernah berdiri di atas lahan kosong. Ia berdiri di atas tanah yang sudah bernama, berjiwa dan berdoa. Dan selama papan kayu itu masih berdiri, ia sedang berkata kepada kita semua: negara, gereja dan masyarakat luas: belajarlah mendengar sebelum kembali merayu. **






