Oleh: Johanes E.S. Wato (Doctoral Researcher, University of Bonn (BIGS-OAS, Southeast Asian Studies)

 

SETIAP tahun pada tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day sebagai momentum untuk merayakan pencapaian perempuan sekaligus mengingatkan dunia bahwa perjuangan menuju keadilan gender masih jauh dari selesai. Di banyak negara, hari ini dipenuhi dengan diskusi tentang kepemimpinan perempuan, kesetaraan di tempat kerja, dan peningkatan representasi politik perempuan.

Namun di sudut lain dunia, jauh dari ruang konferensi internasional dan panggung-panggung perayaan global, perempuan masih menjalani perjuangan yang jauh lebih mendasar: mempertahankan tanah, hutan, dan kehidupan komunitas mereka.

Di Tanah Papua, perjuangan perempuan memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tuntutan kesetaraan gender. Perempuan Papua hidup di persimpangan tiga struktur kekuasaan yang saling bertemu: patriarki lokal, kapitalisme ekstraktif, dan konflik politik yang berkepanjangan. Dalam konteks ini, pengalaman mereka tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif feminisme liberal yang berfokus pada kesetaraan formal antara laki-laki dan perempuan.

Sebaliknya, pengalaman tersebut lebih tepat dibaca melalui lensa feminisme dekolonial dan ekologi politik, yang menekankan bahwa penindasan terhadap perempuan sering kali terkait erat dengan sejarah kolonialisme, eksploitasi sumber daya alam, dan relasi kekuasaan global yang tidak seimbang. Papua merupakan contoh nyata dari persilangan ketiga kekuatan tersebut.

Dari pesisir barat di Sorong hingga wilayah timur di Merauke, perempuan adat Papua memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup komunitas mereka. Mereka tidak hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai pengelola kebun, penjaga hutan, pengatur ekonomi keluarga, dan pelindung pengetahuan ekologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanah, Perempuan, dan Kehidupan

Dalam banyak masyarakat adat Papua, tanah bukan sekadar sumber ekonomi. Tanah adalah bagian dari identitas sosial, spiritualitas, dan keberlanjutan hidup komunitas. Ia menghubungkan leluhur dengan generasi masa depan.

Perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga hubungan tersebut. Mereka menanam pangan di kebun keluarga, mengelola hasil hutan, serta memastikan distribusi pangan dalam jaringan sosial komunitas. Relasi ini mencerminkan apa yang sering disebut sebagai ekologi kehidupan, sebuah keseimbangan antara manusia, alam, dan komunitas.

Namun, keseimbangan ini semakin terancam oleh model pembangunan modern yang berorientasi pada ekstraksi sumber daya alam.

Kapitalisme Ekstraktif dan Kehilangan Ruang Hidup

Papua merupakan salah satu wilayah dengan kekayaan sumber daya alam terbesar di Asia Tenggara. Hutan tropisnya menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, sementara tanahnya mengandung cadangan mineral yang sangat besar.

Namun, kekayaan ini juga menjadi sumber konflik. Ekspansi industri tambang, perkebunan skala besar, dan berbagai proyek pembangunan infrastruktur telah mengubah lanskap ekologis Papua secara drastis. Operasi tambang raksasa seperti yang dikelola oleh Freeport menjadi simbol dari ekonomi ekstraktif yang mendominasi wilayah ini.