Adapun sebaran korban di Sumatera Utara meliputi, Tapanuli Tengah terdapat 51 orang, Tapanuli Selatan 32 orang, Kota Sibolga 17 orang, Tapanuli Utara 11 orang, Humbang Hasundutan  6 orang, Pakpak Barat 2 orang, Kota Padang Sidempuan satu orang.

Musibah ini selain di Sumut juga berdampak luas ke Aceh dan Sumbar

Di Sumatera Barat dilaporkan 23 orang meninggal dunia, 12 hilang, dan 4 luka-luka yang tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, dan Pasaman Barat. Infrastruktur vital lumpuh, termasuk lima jembatan hancur dan jalur nasional Bukittinggi-Padang terputus total serta 3.900 KK terpaksa mengungsi di berbagai titik.

Sementara di Aceh, banjir merendam 20 kabupaten/kota dan memaksa 4.846 Kepala Keluarga (KK) meninggalkan rumah mereka.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut skala bencana yang luar biasa ini dipicu oleh fenomena anomali cuaca bernama Siklon Tropis Senyar. Siklon ini memicu curah hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi di Selat Malaka.

“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” jelas Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani.

Di tengah kondisi infrastruktur komunikasi yang terputus, pemerintah saat ini mengandalkan teknologi satelit Starlink untuk koordinasi evakuasi. Kehadiran perwakilan BAZNAS Mimika di lokasi diharapkan dapat mempercepat penyaluran amanah masyarakat Mimika tepat kepada mereka yang paling membutuhkan di tengah situasi darurat ini. (tim)