Oleh : Laurens Minipko

 

DALAM rangkaian kunjungan kerjanya melintasi Bumi Cenderawasih (20-22 April 2026), mulai dari Nabire berlanjut ke Timika, hingga menutupnya di Sorong dan Raja Ampat, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak hanya membawa pesan kebijakan dari Jakarta. Ia juga membawa pulang, dan lebih penting lagi, memakai langsung dua maha karya anyaman tangan perempuan Papua: sebuah ikat kepala yang dihiasi bulu kasuari yang gagah, dan sebuah noken yang lembut namun kuat.

Di setiap titik pemberhentian itu, lensa kamera menangkap momen yang sama namun penuh variasi makna:

seorang representasi negara dari tanah Jawa, dengan bangga mengenakan atribut budaya yang dirajut oleh mama-mama Papua.

Ini bukan saja protokol penerimaan cenderamata. Ini adalah panggung besar di mana tubuh negara berinteraksi langsung dengan hasil keringat dan seni perempuan adat Papua. Esai ini akan membedah fenomena pemakaian ikat kepada bulu kasuari dan noken tersebut, bukan meromantisasi gestur politik, melainkan untuk mengurai lapisan makna di balik pertukaran simbol antara kekuasaan dan resiliensi perempuan Papua.

Ikat Kepala Bulu Kasuari

Di Nabire, Timika, Sorong maupun Raja Ampat, Gibran terlihat mengenakan ikat kepala tradisional berhiaskan bulu kasuari. Dalam kosmologi banyak suku di Papua, bulu kasuari bukan hanya hiasan kepala. Ia adalah representasi figur suci (totem), simbol keberanian, kedewasaan, dan status sosial laki-laki adat. Biasanya, ia dikenakan oleh para tokoh adat, kepala suku, atau laki-laki yang telah melalui inisiasi tertentu.

Ketika Gibran mengenakannya, terjadi apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai pertukaran modal simbolik (symbolic capital exchange).

  • Bagi Negara (Gibran): mengenakan ikat kepala ini adalah cara cepat memperoleh legitimasi kultural. Ia berkata tanpa suara: “Saya menghormati adat Anda, saya bagian dari kalian.” Ini adalah strategi politik untuk meruntuhkan sejarah jarak antara pusat dan pinggiran.
  • Bagi Mama Papua (pembuat anyaman): Di balik ikat kepala yang gagah di kepala pejabat, itu tangan-tangan perempuan yang merangkai bulu-bulu tersebut dengan teliti. Ironisnya, meski ikat kepala sering diasosiasikan dengan maskulinitas pemakaiannya, yang merajut dan menyiapkan atribut kehormatan laki-laki seringkai adalah perempuan.

Di sinilah letak ketegangan halus: simbol kejantanan dan kekuasaan adat laki laki Papua kini bertengger di kepala wakil presiden, namun proses penciptaannya adalah kerja domestik perempuan. Apakah pengakuan terhadap simbol ini turut mengangkat martabat perempuan yang membuatnya? Ataukah simbol itu hanya diambil estetikanya, sementara pembuatnya tetap berada di bayang-bayang?

Noken dan Tubuh Perempuan

Selain ikat kepala, Noken juga menjadi pendamping setia Gibran dalam kunjungannya di tiga kota tersebut. Bagi perempuan Papua, Noken adalah tubuh kedua. Ia adalah rahim eksternal yang membawa kehidupan: dari umbi-umbian hasil kebun, barang dagangan di pasar, hingga bayi yang digendong di punggung ibu.

Melalu kacamata teori feminis, kehadiran Noken di Pundak Gibran adalah representasi dari “kerja yang tak terlihat” (invisible labor). Ini bermakna:

  • Noken yang dipaki Gibran adalah produk dari kesabaran luar biasa: meramu kulit di hutan, memutar serat, mewarnai alami, dan merajut simpul demi simpul selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
  • Ketika Gibran memamerkan Noken di depan publik di Nabire, Timika atau Sorong, ia sedang memamerkan resiliensi perempuan Papua. Namun, sering kali narasi yang dibangun hanyalah tentang “keunikan budaya” atau “kerajinan tangan”, tanpa menyentuh akar masalah: bahwa noken adalah alat bertahan hidup ekonomi bagi jutaan mama Papua yang tidak memiliki jaringan pengaman sosial.

Resiliensi ini sering dipuji: “Perempuan Papua begitu kuat merajut Noken.”

Tapi pertanyaan kritis harus diajukan:

  • Mengapa mereka harus terus kuat?
  • Mengapa beban menopang ekonomi keluarga dan melestarikan budaya masih sepenuhnya dibebankan pada anyaman tangan mereka, tanpa dukungan sistemik yang memadai dari negara?
  • Memakai Noken adalah gestur indah, tetapi apakah gestur itu diikuti dengan kebijakan yang melindungi harga jual Noken, akses modal bagi perajin, dan perlindungan hak kekayaan intelektual komunitas adat?

Resiliensi sebagai Perlawanan Diam

Perjalanan Gibran dari Nabire, Timika, hingga Sorong dengan mengenakan atribut anyaman ini bisa dibaca melalui lensa James C. Scott tentang Everyday Resistance (Perlawanan Sehari-hari).

Mama-mama Papua yang merajut ikat kepala dan Noken yang akhirnya dipakai oleh Wakil Presiden bukanlah objek pasif. Proses merajut itu sendiri adalah bentuk agensi. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan marginalisasi politik (Prekaritas menurut Judith Butler), mereka terus memproduksi budaya. Mereka mengirim pesan melalui benda-benda itu:

“Kami ada. Budaya kami hidup. Dan kami menuntut diakui bukan hanya sebagai pembuat cenderamata, tapi sebagai subjek utama pembangunan.”

Ketika Gibran memakai hasil anyaman mereka, dia sebenarnya sedang “memikul” harapan dan tuntutan diam-diam dari ribuan mama di pedalaman Papua. Setiap simpul pada Noken di bahunya adalah simpul harapan akan pendidikan yang lebih baik, kesehatan yang terjangkau, dan keadilan ekonomi. Jika negara hanya menikmati estetika anyaman tersebut tanpa memperbaiki kondisi hidup para perajut, maka itu adalah bentuk eksploitasi simbolik.

Negara Berdiri di Atas Anyaman Mama

Rangkaian kunjungan di Nabire, Timika, Sorong dan Raja Ampat telah usai. Ikat kepala bulu kasuari mungkin akan disimpan, dan noken mungkin akan menjadi pajangan. Namun, pesan dari benda-benda anyaman itu harus tetap hidup.

Judul “Anyaman Mama Papua di Pundak Gibran” mengandung kebenaran ganda. Secara harfiah, Gibran memikul benda-benda itu. Secara metaforis, negara Indonesia sesungguhnya berdiri di atas pundak mama-mama Papua:

  • Merekalah yang merajut kohesi sosial lewat Noken.
  • Merekalah yang menyiapkan simbol kehormatan adat lewat ikat kepala.
  • Merekalah yang menahan beban ekonomi paling berat di tengah keterbatasan infrastruktur.

Tanpa anyaman tangan mereka, baik yang berupa benda fisik maupun kerja perawatan kehidupan yang tak terlihat, struktur sosial di Papua akan rapuh.

Maka, memakai ikat kepala dan Noken bukan tidak boleh lenyap saat kamera dimatikan. Itu harus menjadi sumpah jabatan yang tak terucap: Bahwa siapa pun yang mengenakan atribut budaya Papua, wajib melindungi tubuh-tubuh yang merajutnya. Wajib memastikan bahwa mama-mama di Nabire, Timika, Sorong dan Raja Ampat tidak hanya dikenang sebagai pembuat cendermata yang eksotis, tetapi dihargai sebagai arsitek peradaban yang sesungguhnya.

Semoga setiap helai bulu kasuari dan setiap simpul Noken yang pernah menyentuh tubuh para pemimpin kita, menjadi pengingat abadi bahwa amanah terbesar negara adalah menyejahterakan tangan-tangan yang telah merajut harapan bagi negeri ini. (*)