Masyarakat Distrik Mimika Barat Jauh dan Mimika Barat Tengah Jadi Sasaran Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal 2026
Timika,papuaglobalnews.com – Masyarakat yang mendiami wilayah Distrik Mimika Barat Jauh dan Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, menjadi salah satu sasaran program pelatihan pengolahan pangan lokal tahun 2026.
Distrik Mimika Barat Jauh terdiri dari lima kampung, yakni Kampung Potowaiburu, Kampung Yapakopa, Kampung Aindua, Kampung Tapormai, dan Kampung Umar. Sementara Distrik Mimika Barat Tengah terdiri dari sembilan kampung, yaitu Kampung Pronggo, Kampung Kipia, Kampung Mapar, Kampung Akar, Kampung Kapiraya, Kampung Uta, Kampung Mupuruka, Kampung Wumuka, dan Kampung Wakia.
Program ini digagas oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika.
Hal tersebut disampaikan Kepala DP3AP2KB Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, kepada media di sela-sela sosialisasi pembentukan Forum Anak Mimika di salah satu hotel di Timika, Selasa 3 Juni 2026.
Ia mengungkapkan, pelatihan tersebut sangat penting diberikan agar sistem penyajian pangan lokal dalam keluarga tidak hanya dilakukan secara sederhana melalui cara direbus atau dikukus, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai sajian yang lebih menarik dan bernilai gizi tinggi.
Menurutnya, pangan lokal seperti sagu tidak hanya diolah menjadi papeda dan umbi-umbian dan pisang tidak hanya direbus dan dibakar. Tetapi dapat kembangkan menjadi berbagai produk pangan lainnya seperti kue, mie, kripik, tepung dan aneka olahan lainnya.
Begitu pula dengan ikan. Selain direbus dan dibakar, ikan dapat diolah menjadi berbagai menu bergizi seperti pentolan ikan, nugget ikan, sup ikan, gangan (lempah kuning), woku belanga, hingga ikan kuah asam khas Indonesia Timur.
Untuk olahan kering dan camilan, ikan juga dapat diolah menjadi abon ikan, keripik kulit ikan, kerupuk ikan, rempeyek ikan, pepes ikan, maupun ikan bumbu pesmol.
Ia menegaskan tim turun mengadakan pelatihan disesuaikan dengan kondisi alam mengingat akses untuk sampai di dua distrik tersebut satu-satunya hanya mengandalkan trasportasi laut yang jauh lebih murah.
















