Mioko,papuaglobalnews.com – Masyarakat Kamoro yang mendiami Kampung Mioko, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, menggelar upacara adat penancapan patung Mbitoro sebagai bagian dari rangkaian pesta adat Karapau, Sabtu 24 Januari 2026.

Prosesi penancapan Mbitoro setinggi enam meter yang terbuat dari kayu nangka itu berlangsung tepat pukul 14.47 WIT di halaman tengah kampung, persis di depan kerangka bangunan Rumah Adat Karapau. Patung berdiri menghadap ke arah matahari terbit sebagai simbol kehidupan baru. Prosesi upacara Karapau disesuaikan dengan usia anak.

Nuansa magis terasa kental ketika detik-detik patung berdiri disambut kedatangan tiga ekor burung gagak yang terbang dari arah belakang area upacara. Ketiga burung itu kemudian bertengger cukup jauh sebelum akhirnya kembali terbang ke alam bebas, seolah menyampaikan pesan alam bahwa prosesi penancapan telah selesai.

Proses Pembuatan dan Pewarnaan Mbitoro

Mbitoro mulai dipahat pada 14 Januari 2026 oleh para pemahat kampung, dan membutuhkan waktu 10 hari hingga siap diwarnai. Proses pewarnaan berlangsung pada hari ke-11, dimulai pukul 08.00 hingga 14.10 WIT.

Warna yang digunakan seluruhnya berasal dari bahan alam:

Putih: olahan kulit siput yang dibakar.

Merah: hasil campuran kunyit yang dibakar dengan kulit siput.

Kuning: dari bahan alami kunyit.

Hijau: dari daun keladi.

Hitam: dari sabuk kelapa yang dibakar dicampur arang baterai.

Bagian kepala Mbitoro diukir menyerupai wajah masyarakat Mioko yang telah meninggal dalam rentang kurang dari lima tahun. Salah satunya adalah almarhum Muhammad Sugianto Nurman Karopukaro, mantan Anggota DPRD Mimika. Pada bagian kepala juga ditempelkan nama  orang yang sudah meninggal serta kain atau sarung sebagai bentuk penghormatan dari keluarga.