268 Kasus HIV-AIDS Ditemukan pada Warga Mimika Usia 15-29 Tahun, Dinkes Gencarkan Edukasi Pencegahan kepada Remaja dan Pemuda
“Data tahun 2025 menunjukkan penemuan kasus HIV-AIDS pada kelompok usia 15-29 tahun mencapai 268 kasus atau 54,81 persen dari total kasus baru. Fakta dominannya kasus pada kelompok usia produktif ini mengindikasikan tingginya aktivitas seksual berisiko serta masih minimnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular,” katanya.
Ia menegaskan remaja dan pemuda merupakan aset masa depan Kabupaten Mimika yang harus dilindungi. Apabila kondisi tersebut tidak ditangani secara serius, angka penularan HIV dikhawatirkan akan terus meningkat dan berdampak terhadap produktivitas daerah.
“Salah satu langkah preventif yang paling efektif adalah membekali generasi muda dengan literasi kesehatan yang benar,” ujarnya.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika memandang perlu menyelenggarakan Workshop Penanggulangan HIV pada Remaja dan Pemuda sebagai media intervensi untuk meningkatkan pengetahuan, memutus rantai stigma, serta mengendalikan perilaku seksual berisiko di kalangan remaja demi mewujudkan generasi muda Mimika yang sehat dan bebas HIV-AIDS.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Godfield Maturbongs dalam sambutan mengatakan, HIV-AIDS masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian dan kerja sama seluruh pihak.
Menurutnya, pengendalian HIV tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.
“Pada tahun 2025 ditemukan sebanyak 489 kasus HIV-AIDS di Kabupaten Mimika. Dari jumlah tersebut, 268 kasus atau sekitar 54,81 persen terjadi pada kelompok usia 15 hingga 29 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa generasi muda merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penularan HIV dan memerlukan intervensi yang lebih intensif melalui edukasi, promosi kesehatan, serta penguatan perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Ia menambahkan remaja dan pemuda merupakan aset pembangunan daerah yang akan menentukan masa depan Kabupaten Mimika. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan yang benar mengenai HIV-AIDS, kesehatan reproduksi, pencegahan perilaku berisiko, serta pentingnya menerapkan pola hidup sehat dan bertanggungjawab.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar mengenai HIV-AIDS dan IMS, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Peran pemuda sebagai pendidik sebaya atau peer educator sangat penting karena informasi yang disampaikan oleh teman sebaya sering kali lebih mudah diterima dan dipahami oleh kelompok seusianya,” katanya.
Ia juga berharap kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun jejaring dan kolaborasi antarorganisasi kepemudaan, komunitas, kampus, serta organisasi keagamaan dalam mengampanyekan pencegahan HIV di Kabupaten Mimika.
“Kita harus bersama-sama menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), karena stigma hanya akan menghambat upaya pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan yang seharusnya dapat diakses oleh semua orang,” pungkasnya. **

















