Rapat tersebut membahas pelaksanaan program imunisasikKejar bagi anak-anak yang belum menerima imunisasi campak secara lengkap, sekaligus memastikan pelayanan imunisasi dasar lengkap tetap berjalan secara rutin di Puskesmas dan Posyandu.

“Sekarang kita tetap fokus memberikan pelayanan imunisasi dasar lengkap di Puskesmas dan Posyandu, tanpa mengabaikan penanganan kasus campak yang ada,” tegas Linus.

Program imunisasi kejar ini difokuskan pada 10 wilayah Puskesmas di dalam kota yang memiliki angka kasus campak tertinggi.

Selain itu, setiap Puskesmas juga diminta memaparkan cakupan pelayanan imunisasi tahun 2025 serta data lima tahun terakhir, termasuk pemetaan wilayah prioritas pelayanan imunisasi kejar di kelurahan dan kampung.

Linus menjelaskan, setiap Puskesmas memiliki data dan target pelayanan tersendiri dalam program imunisasi kejar.

“Yang kita harapkan, mereka bisa melampaui target. Semakin banyak anak yang mendapatkan imunisasi, semakin baik perlindungan kesehatan masyarakat untuk mencegah kasus serupa di masa depan,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu hambatan dalam pelayanan imunisasi dasar lengkap adalah mobilitas orang tua yang sering berpindah tempat tinggal, sehingga anak tidak sempat mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.

Menurutnya, peningkatan kasus campak di Mimika juga kemungkinan dipengaruhi oleh situasi pandemi Covid-19, ketika sebagian keluarga menolak anaknya menerima imunisasi dasar lengkap. Sebelumnya, angka kasus campak di Mimika relatif rendah.

Karena itu, Linus mengimbau kepada para orang tua yang anaknya belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap agar segera mendatangi Puskesmas atau Posyandu terdekat saat jadwal pelayanan tersedia.

“Vaksin campak tidak hanya tersedia di Puskesmas dan Posyandu, tetapi juga di beberapa klinik. Pelayanan imunisasi ini terbuka untuk semua masyarakat Mimika, termasuk pendatang dari daerah lain,” pungkasnya. **