Timika,papuaglobalnews.com – Magdalena Ema Nunang berhasil masuk tiga besar dari 100 peserta dalam seleksi Pendiri Yayasan Panti Asuhan Terbaik se-Indonesia. Ia ditetapkan sebagai terbaik ketiga setelah melalui serangkaian penilaian yang cukup ketat yang digagas oleh Tim Inisiator dan Sponsor bekerja sama dengan Badan Pengentasan Kemiskinan RI pada tahun 2026.

Magdalena Ema Nunang menjelaskan, dirinya mengikuti penilaian tersebut berdasarkan undangan dari Badan Pengentasan Kemiskinan RI, yang berawal dari kegiatan Silaturahmi Panti Asuhan Nasional (Silatnas) di Makassar pada 23-25 Januari 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Badan Pengentasan Kemiskinan RI mengundang seluruh panti asuhan di Indonesia yang telah terdaftar dalam sistem pengentasan kemiskinan. Acara ini dihadiri para pendiri panti asuhan yang merespons undangan dari Tim Inisiator dan Sponsor, yang juga merupakan pelaku pelayanan di bidang panti asuhan.

Ia mengungkapkan, sebanyak 100 peserta dari 22 provinsi hadir dalam Silatnas tersebut.

“Untuk panti se-Papua sudah dikirimi undangan, tetapi yang merespons hanya saya sendiri dari Panti Santa Susana untuk hadir di acara Silatnas Makassar,” jelas Magdalena Ema Nunang kepada papuaglobalnews.com, Senin 6 April 2026.

Wanita asal Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjelaskan, dalam pertemuan tersebut seluruh pendiri diberikan kesempatan mempresentasikan visi dan misi serta perjalanan panti asuhan masing-masing sejak didirikan hingga saat ini.

Dalam presentasinya, Ema Nunang mengaku menyampaikan materi secara mengalir sesuai pengalaman nyata di lapangan.

“Karena yang hadir semua pendiri, saat presentasi meskipun tanpa persiapan khusus tetap berjalan lancar. Apa yang disampaikan sesuai dengan apa yang kami lakukan sejak awal,” tuturnya.

Dari hasil presentasi tersebut, Tim Inisiator dan Sponsor memilih 17 pendiri panti, termasuk dirinya, untuk menjadi Tim Perumus pembentukan Panti Asuhan Nasional sekaligus ditetapkan sebagai Formatur Dewan Pimpinan Pusat ASPANNI.

Pada rapat kedua, formatur melanjutkan seleksi tahap berikutnya untuk menentukan calon perumus berdasarkan visi, misi, serta implementasi di masing-masing panti. Dari 17 peserta, dirinya terpilih masuk dalam sembilan besar.

Seleksi kemudian berlanjut ke tahap ketiga di Makassar dengan menyisakan tujuh peserta, termasuk dirinya. Pada 27-28 Februari 2026, kembali dilakukan rapat lanjutan, hingga akhirnya terpilih tiga orang pendiri yang berhak menandatangani akta pendirian Asosiasi Panti Asuhan Anak Indonesia di hadapan notaris.

Adapun tiga perwakilan tersebut berasal dari Provinsi Aceh (peringkat pertama), Sulawesi Selatan (peringkat kedua), dan Papua Tengah (peringkat ketiga) yang diwakili oleh Magdalena Ema Nunang.

Magdalena Ema Nunang yang sehari-hari bekerja di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika ini menjelaskan, dalam keputusan rapat dirinya ditetapkan sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat sekaligus Koordinator Panti Asuhan se-Tanah Papua (enam provinsi).

Ia mengakui, pencapaiannya sebagai peringkat ketiga sekaligus Koordinator Wilayah Papua merupakan hasil kerja keras dan dedikasi selama satu bulan, termasuk melakukan pendataan panti asuhan menggunakan telepon seluler.

Dari hasil kerjanya, kini telah terdata sekitar 60 panti asuhan anak yang tersebar di 14 kabupaten/kota di enam provinsi di Tanah Papua.

“Tak menyangka, berawal dari menghadiri undangan Silatnas Panti Asuhan se-Indonesia, saya bisa mengikuti seluruh proses yang cukup sulit, tetapi dapat dilalui dengan baik tanpa hambatan,” ujarnya.

Ia juga mengaku terharu karena dipercaya menjadi salah satu perumus inti yang akan menandatangani akta pendirian ASPANNI di hadapan notaris.

“Saya tidak menyangka suara akar rumput didengar dan diterima oleh Tim Inisiator dan Sponsor serta para pakar panti asuhan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dari 100 peserta awal, dirinya merupakan satu-satunya perempuan Katolik yang mengikuti seleksi tersebut. Bahkan pada tahap akhir, ia menjadi satu-satunya perempuan yang lolos hingga tiga besar.

Pendiri Yayasan Peduli Kasih Panti Asuhan Santa Susana Timika ini mengaku sangat terharu atas pencapaian tersebut.

“Saya merasa haru dan bahagia. Saya percaya Tuhan turut campur tangan dalam seluruh proses ini. Perjuangan untuk bertahan dalam seleksi nasional sangat berat, termasuk biaya transportasi,” ungkapnya.

Meski demikian, ia bersyukur karena seluruh proses dapat dilalui dengan baik. Saat ini, dirinya masih menunggu informasi lanjutan terkait pelantikan pengurus inti nasional oleh Badan Pengentasan Kemiskinan RI.

Ia juga menjelaskan bahwa nama-nama dari Papua yang masuk dalam kepengurusan pusat ASPANNI merupakan para pelaku pelayanan panti asuhan. Mereka juga dapat dihubungi oleh pengurus terpilih, termasuk pers, untuk menyampaikan informasi kepada publik mengenai kegiatan ASPANNI di tingkat pusat maupun daerah.

Ke depan, kegiatan sosialisasi ASPANNI akan dilaksanakan setelah pelantikan Dewan Pengurus Pusat. **