Timika,papuaglobalnews.com – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA mengajak seluruh umat katolik di Keuskupan Timika agar berperan aktif secara bersama-sama membantu, melindungi, memperdayakan, menghargai serta menghormati warga Kamoro sebagai tuan rumah agar tidak mudah tertipu serta korban oleh orang-orang berduit yang datang dari luar karena faktor ekonomis untuk menguasai tanah dan alam yang kaya raya ini.

Ajakan Uskup Bernardus ini disampaikan usai misa Hari Raya Santa Maria Bunda Allah di Stasi Santo Agustinus Nawaripi, Paroki Santo Stefanus Sempan Timika pada Kamis 1 Januari 2026.

Seruan moral Uskup Bernardus ini setelah melihat situasi kehidupan dan keresahan yang terjadi selama ini, bahwa orang Kamoro sering ditipu, diperlakukan tidak adil oleh orang-orang kaum kapitalis dengan diberikan sedikit uang secara perlahan-lahan dengan tujuan licik untuk menguasai tanah warisan leluhurnya.

Sebagai orang katolik, Uskup menegaskan harus terpanggil memikirkan kehidupan dan masa depan masyarakat Kamoro. Tugas sesama warga untuk memperkecil keresahan ini dengan menasihati warga Kamoro tidak boleh menjual tanah.

Dikatakan, orang Kamoro yang memiliki hasil alam melimpah ruah ini seharus menggunakan tanah dengan bijak untuk kehidupan dan generasi penerusnya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, mereka yang datang memanfaatkan kekurangan orang Kamoro untuk memenuhi kerakusan, demi kepentingan ekonomi mereka dengan merampas hak-hak orang Kamoro.

“Saya ajak warga Kamoro jangan jual tanah. Tanah warisan leluhur untuk anak cucu. Tugas  kita umat membantu mereka dengan memberdayakan mereka agar tanah jangan dikasih ke kelompok ekonomis yang hanya mencari keuntungan,” pesan Uskup.

Uskup berharap tugas bersama untuk membela misi Tuhan bagi mereka yang kecil, papa dan lemah. Mereka yang lemah mesti diangkat agar dapat bersaing dengan yang kuat di Timika ini.

Momen kelahiran Yesus di kandang yang hina menjadi kesempatan untuk orang Kristiani umumnya membela, memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran bagi orang Kamoro. Orang Kamoro seperti halnya para gembala, merupakan orang kecil, lemah dan disingkirkan dari sistem di tanah kelahirannya.

Orang Kamoro meskipun hidup di atas tanah yang penuh susu dan madu namun susah, karena hasilnya dibawa keluar oleh orang-orang kapitalis yang mempunyai kepentingan untuk mengejar kekayaan sementara di dunia.  **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.