Umat Katolik Memasuki Masa Pra Paskah 2026, RP. Gabriel Ngga: Tobat Merupakan Panggilan Pulang ke Rumah Bapa
Selama masa Pra-Paskah, umat diajak “menyetel ulang kompas batin” guna memperbaiki relasi dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.
Mengacu pada Injil Matius, RP. Gabriel mengingatkan tiga praktik utama dalam kehidupan rohani yang harus dijalankan tanpa pamer.
Pertama, bersedekah. Umat diajak membuka hati dan peduli kepada sesama yang membutuhkan, serta membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, berdoa. Doa merupakan sarana membangun relasi pribadi yang intim dengan Allah. Masa tobat menjadi kesempatan memperdalam kehidupan doa, baik secara pribadi maupun dalam kelompok umat.
Ketiga, berpuasa. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan pengendalian diri dan solidaritas terhadap mereka yang berkekurangan. Puasa juga dapat diwujudkan dengan mengurangi kebiasaan yang kurang bermanfaat serta belajar berbagi dari apa yang dimiliki.
“Puasa memiliki aspek sosial dan kemanusiaan, bukan hanya soal mengurangi makan atau minum,” tegasnya.
Yesus, lanjut RP. Gabriel, mengajarkan agar segala praktik kesalehan dilakukan secara tersembunyi, bukan untuk dipamerkan.
“Tujuannya agar niat kita murni mencari wajah Tuhan selama 40 hari masa Pra-Paskah, bukan mencari pujian manusia,” katanya.
Di akhir homilinya, RP. Gabriel mengajak umat memanfaatkan masa tobat dengan meninggalkan kebiasaan yang merusak diri dan relasi dengan sesama. Misalnya, menghentikan konsumsi minuman beralkohol atau memperbaiki kehidupan doa yang selama ini kurang terbangun.
“Mari kita gunakan masa rahmat ini untuk sungguh-sungguh kembali kepada Tuhan,” tutupnya. **


























