Timika,papuaglobalnews.com – Umat Katolik sedunia, termasuk di wilayah Keuskupan Timika, pada Rabu 18 Februari 2026 merayakan Misa Rabu Abu sebagai tanda dimulainya Masa Pra Paskah. Di Paroki Santo Stefanus Sempan Timika, perayaan ekaristi dilaksanakan dua kali, pukul 17.00 WIT dan 19.00 WIT, dipimpin oleh Pastor Paroki, RP. Gabriel Ngga, OFM.

Ribuan umat memadati ruang gereja hingga ke bagian sayap kiri dan kanan untuk mengikuti perayaan yang menjadi awal masa tobat selama 40 hari menjelang Hari Raya Paskah.

Dalam homilinya, RP. Gabriel menegaskan bahwa Rabu Abu bukan sekadar ritual tahunan menerima abu di dahi, melainkan sebuah panggilan mendalam untuk kembali kepada Allah.

“Perayaan ini bukan hanya simbol. Ini adalah panggilan pulang ke rumah Bapa, panggilan untuk berbalik kepada Tuhan,” ungkapnya.

Saat abu dioleskan di dahi, imam mengucapkan pesan, “Engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Menurut RP. Gabriel, kalimat tersebut bukan untuk menakut-nakuti umat, melainkan pengingat akan realitas hidup manusia.

“Di hadapan alam semesta dan Tuhan Pencipta, kita ini tidak apa-apanya. Segala pencapaian, harta, dan jabatan adalah fana. Mengakui bahwa kita adalah debu berarti melepaskan kesombongan dan belajar bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah,” pesannya.

Gabriel juga mengutip bacaan pertama dari Kitab Nabi Yoel 2:12-13: “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan meratap.”

Kata “sekarang juga” menjadi penegasan bahwa pertobatan tidak boleh ditunda.

“Bertobat bukan besok, bukan nanti. Tetapi sekarang. Inilah waktu keselamatan, inilah saat perkenanan dengan Tuhan,” ujarnya.

Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak umat untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. Pertobatan, jelasnya, adalah perubahan arah hidup dari yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang berorientasi pada Allah dan sesama.