Tahun Ini Gereja Katolik di Papua Genap 132 Tahun, Perayaan Syukur Kenang Misi Pastor Le Cocq Disatukan dengan Setahun Tahbisan Uskup Timika
Diperkirakan lebih dari 5.000 umat Katolik akan hadir, ditambah partisipasi umat Muslim di Fakfak. Kehadiran lintas agama ini menjadi simbol kuat toleransi dan persaudaraan yang telah lama terjalin harmonis di daerah tersebut.
Fredy menegaskan, dukungan umat Muslim dalam berbagai kegiatan keagamaan menjadi bukti nyata kebersamaan antarumat beragama di Fakfak yang terus terjaga.
Untuk menyukseskan kegiatan ini, panitia telah bekerja sejak dibentuk pada Desember 2025. Total anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp700 juta.
Dalam catatan sejarah, sebelum kedatangan Pastor Le Cocq, terdapat upaya awal misi Katolik oleh Pastor Heyden pada tahun 1891. Namun, Pastor Le Cocq menjadi tokoh utama karena datang dengan mandat resmi dari pimpinan gereja dan memulai karya misi secara nyata sejak tiba di Sekru, Fakfak, pada 22 Mei 1894, termasuk membaptis penduduk setempat.
Pastor Le Cocq wafat secara misterius pada 27 Mei 1896 di wilayah Kipia dan Mapar, Kokonau, Mimika Barat, Papua Tengah. Ia diduga tenggelam saat menjalankan misi, dan jasadnya tidak pernah ditemukan.
Menjelang puncak acara, panitia juga tengah bekerja keras membangun jembatan bambu sepanjang 450 meter yang melintasi hutan mangrove dari Kampung Raduria menuju Pulau Bonyum. Selain sebagai bagian dari napak tilas, jalur ini juga diharapkan menjadi daya tarik wisata religi.
Pemerintah Kabupaten Fakfak turut mendukung pengembangan kawasan ini dengan membangun rumah singgah dan gazebo pada tahun anggaran 2025. Adanya fasilitas tersebut diharapkan dapat mendorong minat wisatawan datang di wilayah tersebut. **




































