“Rumah ibadah harus menjadi tempat semua orang belajar menjadi manusia. Karena kemanusiaan itu satu, tidak ada duanya. Kita perlu menanamkan konsep dasar ini kepada anak-anak kita sejak dini,” tuturnya.

Menag juga mendorong perubahan paradigma dalam relasi keagamaan. Jika dulu perbedaan dianggap ancaman, kini harus dilihat sebagai kekayaan.

“Selama ini kita mengajarkan agama dengan cara negasi berangkat dari siapa yang salah, siapa yang berbeda. Padahal kita harus mulai mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam,” ucapnya.

Sebagai bentuk konkret, Kementerian Agama tengah mendorong penerapan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi—konsep spiritualitas yang menyatu dengan pelestarian alam.

“Agama hadir bukan hanya untuk memanusiakan manusia, tetapi juga untuk merawat semesta. Tempat ibadah perlu disakralkan, tapi ruang publik juga harus diberi nuansa spiritual,” jelasnya.

Menag mengingatkan bahwa spiritualitas tidak bisa tumbuh di tengah lingkungan yang rusak.

“Kalau manusia kehilangan rasa sakral terhadap alam, maka sulit baginya menemukan keteduhan. Kita harus mulai melihat alam bukan sekadar objek, tapi sebagai subjek spiritual,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Menag menyerukan agar bangsa Indonesia memulai babak baru dalam membangun kerukunan—Trilogi Kerukunan Jilid Dua, yakni kerukunan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Selama ini trilogi kerukunan kita mencakup relasi antarumat beragama, internal umat beragama, dan hubungan umat dengan pemerintah. Ke depan, kita perlu memperluasnya menjadi kerukunan yang utuh: manusia, alam, dan Tuhan,” pungkasnya. **