“Dalam patroli ini, kami akan fokus terhadap masyarakt yang masih jalan pegang alat panah (Busur) dan alat tajam lainnya di jalan raya. Kami akan tangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di NKRI,” pungkasnya.

Sementara salah seorang warga yang meminta identitasnya jangan dipublis menyayangkan akibat konflik saudara bermula dari kasus perselingkuhan sudah memakan korban hingga kini sudah 17 orang mati sia-sia. Ia mempertanyakan sampai kapan darah berhenti mengalir di Kwamki Narama?

Menurutnya persoalan itu sudah beberapa kali dilakukan upaca damai belah kayu dan patah panah sesuai tradisi masyarakat pegunungan. Tapi rasa damai itu hanya bertahan sebentar setelah itu kembali memanas.

Menurutnya, untuk menyelesaikan persoalan yang sudah penuh dendam, amarah harus lahir dari sebuah kesadaran nurani dari paling hakiki dari dalam hati setiap warga kedua kubu Newegalen dan Dang. Jika tanpa ada kesadaran dari dalam diri untuk berdamai maka sampai kapanpun dilakukan patah panah dan belah kayu difasilitasi pemerintah, aparat kepolisian dan tokoh adat, agama dan DPRD, DPRP menjadi tidak berarti. Ibarat melempar garam dalam laut.

Kendati demikian, ia menyarankan kepada aparat penegak hukum jangan lembek terhadap pelaku. Bila perlu mengangkut para pelaku utama dalam konflik tersebut dalam hal ini pelaku perselingkuhan untuk diproses hukum. Sebab, gara-gara ulahnya membuat kedua belah pihak berbentrok hingga saat ini.

Selain pelaku utamanya juga kepada kepala perang ditangkap proses hukum.

“Jangan setelah tangkap keluarga datang dengan wajah sedih dan janji tipu-tipu tidak akan ulang lagi, polisi luluh bebaskan mereka,” kritiknya.

Ia berharap polisi jangan mudah percaya dengan wajah lugu keluarga yang datang mengaku bersedia bertanggungjawab sebagai jaminan pembebasan pelaku. Belajar dari fakta selama ini. Setelah dibebaskan meskipun dengan surat pernyataan resmi di atas meterai hanya bertahan dua tiga hari sudah kembali baku panah.

Saat ini kedua belah pihak menjalani taktik perang tidak lagi di medan perang tetapi menyerang di luar arena.

“Kita kasian. Situasi seperti ini bikin warga lain mau bekerja atau bepergian di wilayah-wilayah tertentu di Kwamki Narama jadi takut,” katanya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.