“Kami mengimbau kepada semua pihak yang bekerja dalam program bantuan rumah untuk masyarakat agar lebih jeli dan teliti melihat kondisi riil di lapangan. Bantuan harus diberikan kepada masyarakat yang benar-benar tidak mampu, karena masih banyak rumah warga, khususnya OAP, yang nyaris rubuh. Itu yang harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Merlyn menegaskan sebagai pimpinan di tingkat distrik, dirinya siap mengawal setiap program pemerintah agar benar-benar berpihak kepada masyarakat kecil di wilayah Distrik Wania.

Ia menambahkan jumlah masyarakat Wania yang masuk kategori desil 1 hingga 5 masih cukup banyak. Namun berdasarkan usulan pembangunan rumah untuk tahun 2026, jumlah yang diajukan sekitar 120 unit.

Meski demikian, pemerintah distrik menyerahkan kepada pemerintah kelurahan dan kampung untuk menentukan skala prioritas penerima bantuan rumah yang paling layak.

“Sekarang berdasarkan desil itu kurang lebih sekitar 20 rumah. Jumlah ini di luar dari Pokok Pikiran (Pokir) dewan. Kami berharap kepada dewan agar hanya mengusulkan pembangunan kepada OPD teknis, namun tidak menentukan nama penerima. Karena data penerima sudah ada di distrik,” jelasnya.

Ia menambahkan, usulan pembangunan rumah di Distrik Wania melalui Musrenbang tahun 2024 yang direalisasikan pada 2025 berjumlah 53 unit. Dari jumlah tersebut, 37 unit merupakan program Pokir dewan dan dua unit merupakan program penanganan stunting.

“Kami berharap pembangunan yang berasal dari OPD teknis maupun Pokir tetap menggunakan data penerima yang ada di distrik agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” pungkasnya. **