Perang di Puncak Jaya, Banyak Jatuh Korban, Warga Kesulitan Makanan dan Mengungsi di Gereja
Timika,papuaglobalnews.com – Perang antarpendukung Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya Papua Tengah nomor urut 1 Yuni Wonda dan Mus Kogoya dan Nomor urut 2 Miren Kogoya dan Mendi Wonorengga sejak 27 Maret hingga 4 April 2025 telah memakan banyak korban jiwa. Sesuai data kepolisian ada 12 korban jiwa. Jumlah ini delapan orang berasal dari kubu Paslon 01 dan empat orang dari kubu 02.
Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, Kepala Operasi Damai Cartenz-2025 menyebutkan, selain 12 orang meninggal dunia, 658 korban mengalami luka-luka akibat terkena panah terdiri dari 423 orang pendukung Paslon 01 dan 230 orang kubu Paslon 02.
Akibat bentrokan selain korban nyawa terdapat 201 bangunan dibakar, terdiri atas 196 unit rumah warga, bangunan sekolah dasar, Kantor Balai Kampung Trikora, Kantor Distrik Irimuli, Kantor Partai Gelora dan Kantor Balai Kampung Pagaleme.
Brigjen Faizal menjelaskan, sejumlah korban meninggal terkena tembakan senjata api diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang memanfaatkan situasi politik Pilkada.
Kombes Pol. Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2025, mengingatkan masyarakat setempat tetap menjaga keamanan dan ketertiban supaya tetap harmonis di tengah situasi politik yang lagi memanas.
Sementara Melianus Numang, Ketua AMKI Papua Tengah menyayangkan terjadinya aksi saling serang antarkedua kubu Paslon 01 dan 02.
Ia berharap masing-masing Paslon bisa mengendalikan pendukungnya agar tidak mudah tersulut emosi dalam pesta demokrasi ini.
Melianus mengungkapkan berdasarkan informasi yang diterimanya dari masyarakat Puncak Jaya sejak pecahnya perang antarkedua pendukung Paslon menjadi ancaman serius keselamatan masyarakat setempat.
Selain banyak warga yang sudah jatuh korban meninggal dunia dan luka-luka saat ini mama-mama kesulitan keluar rumah turun ke kebun mencari makanan. Warga yang rumahnya dibakar memilih mengamankan diri dengan mengungsi di gereja-gereja.
Akibat perang ini berdampak pula anak-anak SD, SMP dan SMA tidak mendapatkan akses pendidikan secara baik karena tidak masuk sekolah lantaran merasa takut.
“Masyarakat tidak berani keluar rumah karena diancam dan bahkan dikejar. Perempuan-perempuan yang keluar dari rumah diperkosa. Inikan dalam situasi perang semua adukan bebas,” katanya.
Menyikapi persoalan ini, Melianus meminta kepada Pemerintah Pusat dan Provinsi Papua Tengah secepatnya mengambil langkah antisipatif memberikan pertolongan bantuan bahan makanan (Bama) dan tempat tinggal yang lebih aman.
Selain menganjurkan pemerintah memberikan perhatikan bantuan makanan dan mengevakuasi masyarakat di tempat yang aman, perlu menyelamatkan masa depan anak-anak usia sekolah.
“Anak-anak sekolah di sana menjadi korban. Karena mereka tidak ikut proses belajar mengajar. Sejak pecahnya perang hingga saat ini pendidikan di sana sangat disayangkan,” sesalnya.
Ia juga berharap Pemerintah Papua Tengah dan Kabupaten Puncak Jaya segera mengambil langkah bijak mengakhiri perang antarkedua pendukung Paslon 01 dan 02 Bupati dan Wakil Bupati. **



















