Pemuda Katolik Komcab Paniai Tolak PSN dan Sawit: Ingatkan Prabowo Papua Bukan Tanah Kosong
Kami menegaskan, program-program yang berpotensi menghancurkan hutan Papua harus segera dihentikan. Orang Papua memperoleh kehidupan dari hutan dan tanahnya. Kelapa sawit tidak membawa manfaat, justru membawa mudarat.
Pengalaman pahit masyarakat di Keerom dan Klamono (Sorong) menjadi bukti nyata. Mereka kehilangan lahan bertani dan sumber kehidupan akibat hutan yang habis digantikan perkebunan sawit.
Sikap Gereja dan Solidaritas Masyarakat Adat
Beberapa poin penting terkait sikap Pemuda Katolik dan elemen Katolik di Papua antara lain:
Komitmen menjaga hutan adat, menolak industri ekstraktif yang merusak lingkungan.
Dukungan pencabutan izin perusahaan sawit yang merugikan masyarakat, seperti di Kabupaten Sorong.
Suara kritis hierarki Gereja, termasuk Uskup Timika Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, yang mengecam perluasan sawit sebagai “proyek oligarki yang membunuh rakyat”.
Solidaritas dengan masyarakat adat, seperti Suku Awyu dan Marga Moro yang menolak konversi hutan dan menempuh jalur hukum.
Peringatan bencana ekologis, berkaca pada kerusakan lingkungan parah di Sumatera dan Kalimantan.
Seruan Hati Masyarakat Adat Papua
Kebijakan PSN berbasis perkebunan monokultur (sawit, tebu, singkong) bukan solusi, melainkan ancaman serius bagi hutan adat Papua dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Program ini berpotensi merusak ribuan hektare hutan yang menjadi paru-paru dunia serta mengancam satwa endemik Papua seperti burung cenderawasih, kasuari, kuskus, dan nuri kepala hitam.
Papua adalah rumah bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup di dalamnya. Hutan adalah identitas, ruang hidup, dan relasi spiritual masyarakat Papua.
Kebutuhan mendesak masyarakat Papua bukan perkebunan industri, melainkan:
Pendidikan: ketersediaan guru dan fasilitas pendidikan.
Kesehatan: akses dokter dan layanan kesehatan yang layak.
Kemanusiaan: pengakuan, perlindungan, dan penghormatan terhadap martabat Orang Asli Papua.
Jika dievaluasi berdasarkan asas manfaat, PSN sawit, tebu, dan singkong tidak membawa manfaat nyata bagi masyarakat adat Papua. Kekayaan alam Papua telah lama diambil, namun rakyatnya masih merasa mengungsi di atas tanah sendiri.
Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kabupaten Paniai dengan tegas menolak pembukaan perkebunan sawit dan PSN berbasis monokultur di seluruh Tanah Papua. Negara tidak boleh merambah hutan Papua atas nama pembangunan dan kepentingan kapitalis.
Rakyat Papua tidak membutuhkan kelapa sawit, tetapi membutuhkan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pembangunan manusia yang adil dan bermartabat. Papua bukan tanah kosong. Papua adalah rumah. **



















