Timika,papuaglobalnews.com – Pemerintah Kampung Hiripau dan Kampung Nawaripi, Kabupaten Mimika membekali tenaga kerja lokal asal Suku Kamoro dengan mengikuti pelatihan las di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Merah Putih Kampung Nawaripi.

Sebanyak 27 peserta mengikuti pelatihan keterampilan tersebut selama tiga hari, terhitung mulai Sabtu, 28 Februari hingga 2-3 Maret 2026. Rinciannya, 16 peserta merupakan utusan Kampung Hiripau, Distrik Mimika Timur, dan 11 peserta dari Kampung Nawaripi, Distrik Wania.

Kegiatan pelatihan dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Distrik Wania, Merlyn Temorubun, didampingi Kepala Kampung Nawaripi Nobertus Ditubun, Kepala Kampung Hiripau Bonefasius Pawe, Kabid Pelatihan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Mimika Rahmat, serta Serka Kasimirus Anitu selaku Babinpotdirga/Babinterau Lanud Yohanis Kapiyau (YKU). Dalam pelatihan ini, LPK Merah Putih Nawaripi menggandeng instruktur dari Politeknik Amamapare Timika.

peserta
Peserta pelatihan las saat berada di LPK Kampung Nawaripi untuk memulai praktek disaksikan Kepala Kampung Hiripau, Bonefasius Pawe, Serka Anitu dan Kepala Kampung Nawaripi, Nobertus Ditubun, Sabtu 28 Februari 2026. ( Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

Seluruh peserta dibekali perlengkapan pelatihan berupa kaos seragam merah, helm, kacamata pelindung, sarung tangan, sepatu, dan peralatan las.

Dalam sambutannya, Merlyn Temorubun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kampung Nawaripi atas keaktifan BUMDes Merah Putih dalam menggerakkan program pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, memulai sesuatu tidak perlu berbicara terlalu tinggi, tetapi berani mencoba dan berjalan sambil terus melakukan pembenahan agar ekonomi kampung dapat terus berkembang. Hal tersebut sejalan dengan tujuan penggunaan Dana Desa (DD) untuk mendorong perputaran ekonomi melalui karya nyata.

Ia menegaskan, melalui kolaborasi pelatihan keterampilan bersama lembaga pendidikan Politeknik Amamapare, diharapkan mampu mempersiapkan skill terbaik bagi putra-putra lokal agar siap bekerja di mana saja maupun membuka usaha sendiri untuk melayani kebutuhan masyarakat Mimika.

Merlyn menyoroti selama ini banyak tenaga kerja dari luar yang bekerja di area PT Freeport karena dianggap memiliki kemampuan dan keterampilan.

“Tapi sebenarnya kita tidak kalah. Kita punya potensi bekerja di bidang las, permesinan, dan keterampilan lainnya. Hanya saja kita sering kurang percaya diri,” ujarnya.

Selain keterampilan dan rasa percaya diri, ia menilai kedisiplinan juga menjadi faktor penting dalam dunia kerja. Ia berharap pelatihan ini tidak hanya menghasilkan hard skill, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, serta soft skill, termasuk kemampuan beradaptasi dan membangun relasi dengan orang lain.

Ia juga berharap kemampuan yang diperoleh peserta dapat menjadi bagian dari peluang kerja di lingkaran Freeport, terlebih dengan perpanjangan kontrak IUPK hingga tahun 2061.

Sebagai pemerintah distrik, Merlyn menyatakan akan membantu menginformasikan secara resmi kepada perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan kerja agar memberi kesempatan kepada tenaga kerja lokal.

Pada kesempatan itu, ia turut menyampaikan adanya kegiatan “Komunitas We Bicara”, yakni pelatihan bahasa Inggris gratis bagi anak-anak Kamoro. Kegiatan ini bertujuan melatih keberanian berbicara dan memperkaya wawasan bahasa asing guna membuka peluang kerja lebih luas.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah Presiden Prabowo pada tahun 2026 memiliki program merekrut tenaga kerja Indonesia yang memiliki skill, seperti otomotif, untuk dikirim bekerja ke Rusia. Namun, selain keterampilan, kemampuan bahasa asing menjadi syarat utama.

Sementara itu, Kepala Kampung Nawaripi Nobertus Ditubun menjelaskan Kampung Nawaripi kini telah berstatus sebagai kampung mandiri. Pelatihan ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kampung Hiripau dan BUMDes Merah Putih Nawaripi dengan pembiayaan menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2026.

“Mereka mengikuti pelatihan selama tiga hari, dan anggarannya akan dibayar oleh Kampung Hiripau setelah Alokasi Dana Desa cair,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagai kampung mandiri, setiap pelatihan tidak lagi bersifat gratis karena menjadi salah satu sumber pendapatan BUMDes yang nantinya masuk sebagai pendapatan kampung.

“Kepala Kampung Hiripau dan Kampung Nawaripi sudah menandatangani kerja sama pelatihan ini. Setelah Alokasi Dana Desa cair, semua biaya administrasi akan dilunasi,” ujarnya.

Instruktur dari Politeknik Amamapare Timika, Emanuel Alexander Rettob, menjelaskan LPK Merah Putih Nawaripi telah menjalin kerja sama dengan Politeknik Amamapare sejak empat tahun lalu. Selain menyelenggarakan pendidikan formal bagi lulusan SMA/SMK, Politeknik Amamapare juga membuka pendidikan dan pelatihan nonformal dengan lima jurusan keterampilan.

Ia menyebut peserta pelatihan berpeluang direkrut bergabung dengan BLK Amamapare apabila memiliki kemampuan yang baik.

Menurutnya, dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan ijazah formal, tetapi juga sertifikat kompetensi. Instruktur BLK Amamapare sebagian besar merupakan dosen berkualifikasi S2 dan memiliki sertifikat instruktur dari Kementerian Tenaga Kerja, dengan keahlian di bidang teknik sipil, mesin, komputer, pertambangan, dan listrik. Dengan 80 persen instruktur rutin mengikuti uji kompetensi setiap tahun.

Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Peserta lulusan SMA/SMK yang lulus ujian akan memperoleh sertifikat resmi sesuai nomor registrasi ijazah, sedangkan lulusan SD dan SMP memperoleh sertifikat lokal.

“Dengan sertifikat ini jangan malu meski tidak memiliki ijazah formal tinggi. Di Indonesia orang sering melihat gelar, tapi di luar negeri yang ditanya adalah sertifikat kompetensi. Ke depan, perusahaan akan sangat membutuhkan sertifikat kompetensi,” tegasnya.

Kabid Tenaga Kerja Disnakertrans Mimika, Rahmat, menekankan pentingnya kedisiplinan dan sikap sopan santun. Tanpa kedisiplinan dan ketaatan, keterampilan yang dimiliki tidak akan memberi manfaat maksimal.

“Gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Tanpa bukti sertifikat, perusahaan belum tentu menerima lamaran kita,” pesannya.

Serka Kasimirus Anitu juga berpesan agar seluruh peserta yang merupakan anak-anak Kamoro mengikuti pelatihan dengan serius, disiplin, dan tidak terlibat minuman keras selama kegiatan berlangsung.

Sementara itu, Kepala Kampung Hiripau Bonefasius Pawe menjelaskan, pelatihan ini dibiayai melalui Alokasi Dana Desa tahun 2026. Seluruh peserta merupakan anak-anak Kamoro yang selama ini bekerja sebagai buruh bongkar muat di Pelabuhan Pomako.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin mereka memiliki keterampilan sehingga bisa membuka usaha sendiri atau melamar kerja di perusahaan,” pungkasnya. **