Timika,papuaglobalnews.com – Baraya Sunda Mimika bukanlah sebuah perkumpulan biasa. Tetapi diharapkan dapat memberi manfaat yang besar kepada anggota dan masyarakat. Manfaatnya bagi seluruh warga Sunda dan masyarakat Timika secara umum, karena di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Demikian disampaikan Ouceu Satyadipura, Pj. Ketua Paguyuban Baraya Sunda Mimika dalam Halal Bihalal Idul Fitri 1446 Hijriah di Gedung Tongkonan bertemakan ‘Menjaga Silahturahmi dan Memperat Persaudaraan’, Sabtu 17 Mei 2025.

“Sebagai urang Sunda, saya juga ingin sedikit mengingatkan kita semua tentang apa itu Sunda. Karena kita harus paham dan memberikan pemahaman kepada generasi penerus kita tentang jati diri Sunda di tengah masyarakat,” katanya.

Ouceu  menjelaskan, Sunda bukan hanya nama etnik, bukan hanya suku atau ras. Sunda sama sekali tidak menunjuk pada wilayah kecil di Pulau Jawa bagian barat.

Sunda bukan membicarakan darah biru, karena Sunda itu bukan kebangsawanan dengan segala gelar.

Sunda juga tidak klenik sama sekali, bukan sebuah pola ritual sektarian, karena Sunda itu bukan perkara menyembah barang pusaka.

Menurutnya, Sunda itu tentang pengetahuan hidup, tentang sebuah perilaku baik, jujur, dan rendah hati yang dipupuk menjadi karakter atau watak.

Sunda merupakan metode keterhubungan antara manusia dengan manusia lainnya dan juga dengan ciptaan Allah yang lain.

Sunda mengajarkan agar orang mampu memanusiakan dirinya dan orang lain, serta selalu menjaga harga diri dan kehormatan.

“Sunda itu berbicara tentang belapati terhadap martabat bangsa dan negara, karena Sunda mengajarkan kita untuk cinta tanah air,” jelasnya.

Ia menyebutkan Urang Sunda harus memiliki empat karakter, yaitu:

  1. Darehdeh, urang Sunda itu bahasanya teratur dengan baik.
  2. Daria, urang Sunda juga tidak memperlihatkan kesulitan di wajahnya, selalu terlihat bahagia.
  3. Balabah, apa yang dimiliki adalah milik orang banyak, asal bermanfaat bagi orang lain.
  4. Nyecep, membesarkan hati yang sedang bersedih.

Ouceu teringat sebuah pesan dari eyang Prabu Siliwangi, Maharaja Pajajaran di masa lalu melalui wangsitnya;

Sing saha bae anu ngagunakeun ngaran Siliwangi (Barang siapa yang menggunakan nama Siliwangi);

Atawa ngarasa jadi sekeseler Siliwangi (atau merasa dirinya bagian dari Siliwangi);

Manehna bakal nanjung hirupna (mereka akan agung hidupnya);

Bakal mulia gumelarana (akan mulia namanya);

Kawangikeun sabuana panca tengah (dan akan harum namanya ke seluruh penjuru);

lamun manehna jujur, sinatria, gumati ka sileutik (apabila ia berlaku jujur, satria, dan memperhatikan rakyat kecil);

Nyaah karahayat sarta wibawa kasasama (sayang kepada rakyat dan wibawa kepada sesama);

Sabalikna, hirupna moal panggih jeung kaseunangan (sebaliknya hidupnya tak akan mendapat kesenangan);

Bakal lara balangsak saindegungna (akan lara sengsara selamanya);

lamun ingkar tina patokan anu tadi (apabila ingkar dari nilai-nilai kehormatan itu).

Ouceu mengajak untuk SILIH ASAH, SILIH ASIH DAN SILIH ASUH.

SILIH ASAH; yaitu silih bejaan dina kahadean (saling mengingatkan tentang kebaikan);

SILIH ASIH; yaitu silih pikanyaah, nulung ka nu butuh, naling ka nu susah (saling menyayangi, menolong pada yang butuh, membantu pada yang susah);

SILIH ASUH; yaitu silih jaga antar sasama (saling menjaga antar sesama); **