Timika,papuaglobalnews.com – UMAT Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan Timika merayakan misa malam Paskah, Sabtu 19 Arpil 2025.

Perayaan misa memperingati kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dipimpin Pastor Gabriel Ngga, OFM, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Timika, Keuskupan Timika.

Misa yang diawali dengan ritus imam menggaris dari atas ke bawah pada lilin sambil mengucapkan ‘Kristus dahulu dan sekarang’. Menggaris dari kiri ke kanan pada lilin sambil mengucapkan Awal dan Akhir.  Alpha {menulis huruf A dan Omega menulis Q} sambil mengucapkan Milik-Nyalah segala masa dan segala abad (O) kepada-Nyalah kemuliaan dan kekuasaan sepanjang segala masa. Imam kemudian menancap lima bija dupa. Biji pertama melambangkan demi luka-luka-Nya, biji kedua, melambangkan kudus dan mulia, biji ketiga melambangkan, semoga kita dilindungi, biji keempat melambangkan dipelihara dan biji kelima melambangkan Kristus Tuhan. Selanjutnya imam menyulutkan lilin Paskah sambil mengucapkan ‘semoga cahaya Kristus yang bangkit mulia, menghalau kegelapan’.

Imam bersama misdinar perarakan lilin Paskah menuju altar dan menyanyikan ‘cahaya Kristus’.

Pastor Gabriel Ngga, OFM mengawali homilinya mengajukan pertanyaan refleksi. Apa relevansi makna Paskah bagi umat Kristiani yang hidup di tengah situasi dan kondisi saat ini sebagai pengikut Kristus?

Ia menegaskan manusia saat ini hidup dalam situasi dan kondisi tidak baik-baik saja dan tidak menentu. Dimana kondisi ekonomi sosial yang tidak memberikan kepastian hidup. Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donal Trump tentang tarif impor selain mengguncang dunia dan termasuk Indonesia merasakan dampaknya.

Pastor Gabriel menyoroti, kebijakan Pemerintah Indonesia juga turut merugikan masyarakat dimana banyak perusahaan Putus Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan.

Kemudian kebijakan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke yang memberikan efek domino terhadap seluruh aspek kehidupan. Kehidupan keamanan bermasyarakat juga semakin jauh dari rukun, damai dan harmoni.

Munculnya kekerasan dan konflik mengancam kehidupan manusia baik pribadi maupun bersama. Kemiskinan dan kerusakan alam serta perguncingan dan pertarungan politik yang tidak memberikan rasa nyamam serta pasti bagi masyarakat.

Semua ini katanya, kebangkitan Tuhan tidak memberikan jawaban konkrit atas pelbagai macam persoalan ini.

Namun kata Pastor Gabriel, berdasarkan bacaan Kitab Kejadian 1:1-26-31a tentang ‘Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. Kemudian kisah Kitab Keluargan tentang Orang-orang Israel berjalan di tengah laut yang kering. Pembacaan dari Kitab Yesaya dan pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma memberikan inspirasi bagi umat Kristiani  untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ia menjelaskan, Kitab Kejadian memberikan jawaban bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah sendiri. Manusia memiliki keluhuran dan kesucian martabat. Karena manusia memiliki keluhuran martabat, maka hanya kepada manusia pencipta mempercayakan alam ciptaan-Nya untuk dikuasai. Berkuasa seperti Allah berkuasa melayani, merawat, menjaga, memelihara dan mengembangkan.

Namun Pastor Gabriel  mempertanyakan  mengapa alam rusak dan kekerasan terjadi antarsesama manusia itu ada?

Menurutnya, itu terjadi karena manusia tidak tau diri, dan tidak menerima diri sebagai gambar dan rupa Allah. Mereka malah ingin menjadi seperti Allah. Itulah godaan yang tidak bisa dikalahkan sejak manusia pertama. Dosa asal, dosa tidak tau diri, tidak menerima diri, mengangkat diri seperti Allah.

Manusia melanggar tatanan kosmik dalam Taman Eden, karena mendaulat diri seperti Allah. Padahal mereka bukan Allah.

“Kalau manusia mengklaim diri sebagai Allah dan itu berarti Yang Maha Kuasa, maka tak heran manusia bertindak melampaui keterbatasan manusiawinya sampai mengklaim menguasai atas hidup orang lain melalui tindakan pemerasan, kekerasan hingga mencabut nyawa sesame,” tegasnya.

Ia menekakan, derita, penindasan, perbudakan di Mesir adalah pengalaman buruk dari kejahatan kemanusiaan yang masih juga terjadi sampai saat ini.

Misalnya, penindasan terhadap masyarakat kecil dengan cara merampas tanahnya dan merampok kekayaan alamnya.

Santo Paulus menggaris bawahi hanya dengan menjaga, merawat dan memelihara kesatuan dengan Kristus  manusia dapat hidup baik dan benar. Mampu mengatasi pelbagai persoalan termasuk mengalahkan maut untuk bangkit bersama Kristus.

Namun sebagai orang Kristen benarkan berdiri teguh di dalam Kristus? Apakah orang-orang Kristen pengikut Kristus bebas dari kejahatan kemanusiaan seperti pemerasan, penindasan, korupsi, KDRT, merusak alam dan mencuri, rakus, tamak dan merampas hak-hak orang lain?

Ia menegaskan perayaan kebangkitan Kristus menjadi sangat tidak bermakna jika manusia sebagai pengikutnya tidak mau bangkit dan tidak ingin berubah. Berubah menjadi manusia baru dengan sikap serta perilaku baru dalam hubungan dengan Allah, sesama dan alam ciptaan-Nya.

Momen perayaan Paskah ini selalu disertai mengucapkan janji baptis, dengan tujuan mengingatkan umat-Nya untuk bangkit lagi. Lahir menjadi manusia baru bersama Kristus yang bangkit.

“Kita menjadi saksi bagi dunia dalam membangun dunia yang lebih manusiawi dan lebih adil, benar sesuai rancangan kehendak Allah, agar kerajaan Allah itu terjadi di tempat ini seperti di surge,” katanya. **