Menurutnya, tindakan membasuh kaki berarti para pemimpin mau turun ke pinggiran menyentuh luka-luka ketidakadilan dan membawa pemulihan bukan sekadar janji.

“Membasuh kaki berarti kita berhenti saling menghakimi antara suku dan golongan dan mulai bangkit saling melayani sebagai satu tubuh dalam persekutuan dengan Kristus,” pesannya.

Gabriel menjelaskan, Santo Paulus dalam Suratnya kepada jemaat di Korintus berbicara tentang perjamuan yang dibuat oleh Yesus bersama para murid-Nya. Dalam perjamuan itu dikisahkan bahwa Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkannya dan memberikan kepada murid-murid-Nya. Roti yang satu itu menjadi milik bersama. Hal ini hendak menggambarkan esensi atau hakikat dari persekutuan.

Ia menekankan perjamuan kudus yang dirayakan mengingatkan umat bahwa tidak boleh ada orang yang kenyang sendirian sementara banyak orang atau tetangganya kelaparan. Memecah roti dalam konteks Papua berarti memastikan kekayaan alam yang Tuhan titipkan di tanah ini benar-benar terpecah dan terbagi secar adil demi kesejahteraan demi anak bangsa dan semua orang yang mendiami tanah ini.

“Kita sering berkata Papua adalah tanah yang kaya, ibarat surga kecil jatuh ke bumi. Namun ironisnya masih ada saudara-saudari kita yang mengalami kekurangan gizi atau kekurangan akses pangan yang layak, karena berbagai hal. Karena terlempar dari kampung halamannya akibat sering mengalami kekerasan sehingga terpaksa hidup di tempat pengungsian dan sulit mendapatkan makanan,” tegasnya.

Gabriel mengajak semua umat Kristiani sepulang dari perayaan ini bukan saja mengenang malam perjamuan tetapi dengan membawa komitmen baru jadilah pembasuh kaki bagi mereka yang terpinggirkan di sekitar-kitar.

“Jadilan diri kita sebagai roti yang dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan bagi mereka yang lapar akan keadilan,” ajaknya.

Ia mendoakan kiranya terang Kamis Putih menerangi setiap sudut hati umat, menyinari setiap sudut Kota Timika dan di tanah Papua. Menjadikannya tanah yang sungguh-sungguh diberkati dimana kasih dan cinta menjadi hukum tertinggi. Semua boleh hidup dalam harmoni kasih dan damai. **