Mereka tidak menolak pengakuan negara. Mereka tidak menolak pembangunan. Mereka bahkan membuka ruang bagi promosi budaya melalui festival dan kegiatan publik. Namun ketika representasi simbolik menyimpang dari makna aslinya, mereka memberikan koreksi. Inilah yang disebut resiliensi budaya.

Resiliensi bukanlah perlawanan frontal terhadap perubahan. Ia adalah kemampuan menyerap perubahan sambil menjaga inti struktur makna tetap utuh.

Politik Repersentasi di Era Otonomi Daerah

Kasus Mbitoro dengan tambahan burung membuka  diskusi lebih luas tentang politik representasi budaya di era otonomi daerah.

Pemerintah daerah atau lembaga dan korporasi sering menggunakan simbol adat sebagai identitas visual untuk promosi kegiatan, pariwisata, atau branding pembangunan. Praktik ini pada dasarnya dapat memperkuat kebanggaan lokal. Namun simbol sakral tidak sama dengan logo kegiatan, perusahaan atau dekorasi lokal.

Filsuf Miranda Fricker menyebut situasi seperti ini sebagai ketidakadilan epistemik, yaitu kondisi ketika pengetahuan suatu komunitas tidak diakui secara setara dalam proses produksi pengetahuan.

Dalam konteks masyarakat adat, ketidakadilan epistemik terjadi ketika simbol budaya digunakan tanpa melibatkan pengetahuan komunitas pemiliknya.

Hal ini sejalan dengan kritik dari Linda Tuhiwai Smith, yang menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat adat selama berabad-abad sering berada di bawah definisi ulang kekuasaan kolonial dan ilmu pengetahuan barat.

Karena itu, pengakuan formal terhadap Mbitoro dan Karapao sebagai kekayaan intelektual komunal seharusnya tidak berhenti pada pencatatan administratif. Ia harus diterjemahkan dalam tata kelola budaya yang partisipatif.

Melibatkan lembaga adat, pemahat tradisional, serta generasi muda dalam setiap penggunaan simbol budaya adalah langkah konkret untuk menjaga integritas makna tersebut.

Generasi Muda sebagai Penjaga Warisan

Menariknya, kritik terhadap representasi Mbitoro justru datang dari genersi muda.

Fenomena ini mematahkan anggapan bahwa modernisasi otomatis mengikis kesadaran adat. Generasi muda Kamoro justru menunjukkan kemampuan untuk bergerak di dua dunia sekaligus: dunia birokrasi dan dunai kosmolgi leluhur.

Mereka menggunakan bahasa publik untuk mempertahankan makna simbol adat. Mereka tidak diam. Mereka berdialog dan bernegosiasi.

Hal ini menujukkan bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga oleh para tetua adat, tetapi juga oleh generasi muda yang membangun konektivitas baru antara tradisi dan modernitas.

Mimika sebagai Ruang Uji Ketahanan Budaya

Sebagai wilayah yang menjadi pusat aktivitas industri besar, Mimika adalah salah  satu ruang sosial paling dinamis di Papua.

Migrasi penduduk dari berbagai daerah, pertumbuhan ekonomi berbasis industri ekstraktif, serta urbanisasi yang cepat menciptakan lanskap sosial yang kompleks.

Dalam banyak kasus di berbagai belahan dunia, kondisi seperti ini sering kali menyebabkan erosi budaya lokal. Namun dalam konteks Kamoro, situasinya menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Mbitoro masih dipahat.

Karapao masih dilaksanakan.

Motif simbolik masih dikenal.

Makna masih diperdebatkan.

Ini bukan nostalgia romantik terhadap masa lalu, melainkan praktik nyata resiliensi budaya dalam menghadapi perubahan.

Dari Polemik Kecil ke Pelajaran Besar

Seekor burung di puncak patung mungkin tampak seperti persoalan kecil. Namun dari situ muncul pertanyaan penting: siapa yang berhak menafsirkan simbol budaya?

Apakah negara atau pihak luar  dengan kewenangan administratifnya?

Ataukah komunitas adat dengan legitimasi geneologis dan spiritualnya?

Jawabannya seharusnya bukan memilih salah satu, melainkan membangun dialog yang setara.

Jika pengakuan kekayaan intelektual  komunal adalah langkah awal, maka langkah berikutnya adalah memastikan penggunaan simbol adat dilakukan konsultasi dan sensitivitas budaya.

Menjaga Inti di Tengah Arus

Mbitoro dan Karapao menunjukkan bahwa masyarakat Kamoro tidak sebatas bertahan; mereka menata ulang diri di Tengah modernitas.

Resiliensi mereka terletak pada kemampuan untuk:

  • Mentransmisikan ritus kepada generasi baru,
  • Menjaga integritas motif simbolik,
  • Menegosiasikan representasi budaya di ruang publik,
  • Serta melibatkan generasi muda dalam penjagaan makna.

Di Tengah arus pembangunan Mimika, pelajaran ini menjadi penting.

Budaya bukanlah hambatan bagi  kemajuan. Justru ia adalah fondasi keberlanjutan.

Dan mungkin, dari polemik tentang burung yang tidak semestinya berada di puncak Mbitoro, kita belajar satu hal besar. Menjaga budaya berarti menjaga hak komunitas untuk mendefinisikan dirinya sendiri. (*)