Kisah Inspiratif Capten Alion Belau! Emas dari Mbiandoga Intan Jaya Terbang Tinggi Tembus Langit Papua Nugini
KISAH ini adalah tentang seorang anak gunung dari Intan Jaya yang menembus batas-batas yang selama ini dianggap mustahil. Tentang doa yang tidak pernah putus. Tentang luka yang berubah menjadi jalan berkat. Dan tentang seorang pilot Papua yang menorehkan jejak sejarah di langit Papua New Guinea.
Namanya: Alion Belau.
Ia lahir dan besar di tanah Moni, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah-wilayah yang lebih akrab dengan kabut pegunungan daripada gemerlap kota. Dari puncak gunung Olaga yang sunyi tanpa sinyal, ia menerima kabar yang mengubah hidupnya: panggilan untuk bekerja sebagai pilot di Papua Nugini, negeri yang oleh warganya disebut “The Land of Unexpected.”
Namun kisah ini bukan hanya tentang pekerjaan di luar negeri. Ini adalah kisah tentang doa, kerja keras, dukungan, kegagalan, kebangkitan dan pencapaian.
Tulisan ini meramu kembali perjalanan ALION BELAU selama bekerja di Papua New Guinea-sebuah kisah yang bukan hanya layak dibaca, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda Papua sebagai bukti bahwa tingginya gunung yang seolah mereduksi cakrawala bukan penghalang untuk bermimpi.
AINA: Sebuah Nama, Sebuah Panggilan
Dalam Bahasa Suku Moni, Aina berarti: kaka laki-laki. Bukan sekadar panggilan keluarga, tetapi simbol tanggung jawab, keteladanan, dan harapan.
September 2024, saya berada di Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya-wilayah Suku Moni dan Wolani, tepatnya di Mbeamo. Tidak ada sinyal telepon, tidak ada internet. Jika ingin terhubung dengan dunia luar, saya harus mendaki Gunung Olaga.
Suatu pagi saya tergerak untuk naik ke sana. Setelah hampir satu jam berjalan, setibanya di puncak, ponsel saya menangkap sinyal. Sebuah pesan WhatsApp masuk-tawaran kerja di Papua New Guinea.
Tawaran itu datang melalui perkenalan seorang Captain Pilot aktif maskapai penerbangan nasional PNG, Air Niugini, yang diperkenalkan oleh mentor saya, Kaka Samuel Tabuni.
Saya terdiam. Terkejut. Bahagia.
Di puncak gunung itu saya teringat Firman Tuhan:
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Matius 6:33).
Dan benar, ketika Tuhan ditempatkan sebagai yang terutama, jalan yang tak terlihat pun terbuka.
Suara Doa yang Menguatkan Sayap
Ketika kabar itu saya sampaikan kepada keluarga, makna “Aina “ terasa semakin dalam.
Bapa berkata:
“Aina, ini berita bagus sekali. Tuhan telah jawab doa saya supaya aina bisa kerja kembali. Tuhan jawab ternyata di PNG. Saya doa tidak pernah putus-putus jadi aina selamat melayani, kami keluarga bangga sekali. Puji Tuhan.”
Itu bukan sebatas ucapan bangga. Itu adalah doa yang tidak pernah berhenti.
Mama, dengan mata berkaca-kaca, berkata bahwa ia sebenarnya tidak rela jika saya harus ke luar negeri lagi. Ia ingin saya tetap dekat. Tetapi dengan hati yang berat, mama melepaskan saya dengan doa siang dan malam.
Mama adalah pendoa paling disiplin yang saya kenal. Ia berkata:
“Mama akan doakan terus, tidak pernah putus-putus.”
Istri saya, Jenny, berkata sederhana namun penuh iman:
“Wee bagus sekali ayang, Tuhan baik. Kita mengucap syukur kepada Tuhan dan terus berdoa kiranya semua proses surat-surat untuk masuk ke PNG seperti visa dan lainnya bisa lancar.”
Setiap hari ia mendoakan keselamatan saya, agar tiba dan melayani dengan baik di PNG.
Dan kaka Samuel Tabuni, mentor yang membuka jalan itu, berkata:
“Adik, kaka bangga sekali sama adik. Adikku tetap maju dan banggakan Tanah Papua. Buktikan di sebelah (PNG) kalua adik itu mampu dan jadi motivasi buat adik-adik Papua lain. Adik harus beri contoh dan teladan baik di tempat kerja dan lingkungan. Sekali lagi kaka sangat bangga dengan adik.”
Di situlah saya sadar: saya tidak terbang sendiri. Saya membawa doa.
Dari Luka ke Langit
Perjalanan ini bukan tanpa air mata.
Tahun 2022 saya mengalami insiden pecah ban depan (Nose Wheel) saat mendarat di Bilogai, kampung halaman saya. Saya dirumahkan beberapa bulan. Masa itu menjadi ruang refleksi iman.



































