Timika,papuaglobalnews.com – Suasana Kota Timika pada akhir pekan, Sabtu pagi 10 Oktober 2026 masih seperti bisa. Diselimuti asap kabut kebakaran hutan dan lahan (Kerhutla) dari Kabupaten Merauke Papua Selatan. Ruang udara Timika hampir dua atau tiga minggu ini benar-benar tercemar asap. Di tengah kehangatan udara pagi sekitar pukul 10.00 WIT, Ketua Pimpinan Cabang FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika, Abraham Deda didampingi Elieser Kararbo, Sekretaris PC FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika dan Yuda Edwin Noya, Ketua PUK PT Freeport Indonesia bersama sejumlah karyawan yang merupakan pengurus PC FSP KEP SPSI SPSI Mimika berkumpul di Gorong Gorong tempat darah almarhum Petrus Ajemsyeba tumpah dan hembus nafas. Selain mengenang Petrus juga mengenang Leo Songgonau yang hembus nafas terakhir di RSUD Mimika.

Mereka mengenakan pakaian kebesaran organisasi. Hadir juga ayah kandung alm. Petrus Ajemsyeba, Zakarias Ayamiseba (76), Imelda Ayamiseba (42) adik kandung almarhum dan keempat putra dan putri almarhum. Keempatnya adalah Mikael Jekson Ajemsyeba (33), Yulians Yunus Ajemsyeba (30), Hana Ajemsyeba (29) dan Dedi Marselino Ajemsyeba (21).

Mereka datang berkumpul di Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mengenang kembali di tempat itu ada tetesan darah orang yang mereka cintai, tulang punggung keluarga, teman, sahabat yang senasib dan seperjuangan menjadi korban timah panas dari aparat dalam aksi demo damai pada tahun 2011 silam. Demo ini dalam menuntut PT Freeport Indonesia memperhatkan kesejahteraan ribuan karyawan.

Elieser Kararbo, Sekretaris PC FSPKEP SPSI Kabupaten Mimika menjelaskan berkumpulnya pengurus PC FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika di tempat itu untuk mengheningkan, memberi hormat, mengenang kembali kisah sejarah perjuangan kedua almarhum bersama ribuan karyawan 15 tahun silam dalam memperjuangkan hak-hak kesejahteraan karyawan terhadap manajemen PT Freeport Indonesia. Dalam aksi demo terjadi insiden yang semua sama-sama tidak menginginkan. Peristiwa itu menjadi luka bagi semua karyawan dan keluarga yang tidak dapat dilupakan.

Elieser mengungkapkan kejadian yang menimpa Petrus dan Leo menjadi luka meskipun pahit namun tetap dikenang agar api dan semangat perjuangan yang ditinggalkan keduanya tetap menyala.

Dalam momen penuh maka serta haru, Elieser menjelaskan selain menghening juga berdoa kepada kedua almarhum semoga seluruh perjuangan dan amal baiknya di dunia dapat diterima oleh Tuhan dan segala salah dan dosanya diampuni oleh sang pencipta. Sedangkan kepada keluarga diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi peristiwa tersebut.

Sementara Yuda Edwin Noya, Ketua PUK PT Freeport Indonesia dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan pengurus yang telah datang hadir secara bersama-sama mengenang kembali kejadian penembakan terhadap kedua almarhum di tempat itu 15 tahun lalu. Keduanya menjadi korban penembakan dalam aksi demo damai bersama ribuan keryawan Freeport dan kontraktor sebagai buruh yang tidak dapat dilupkan begitu saja. Karena hasil dari perjuangan keras, air mata, darah itu saat ini sudah dinikmati oleh ribuan karyawan.

“Ini bukti dari darah yang tumpah di tempat ini. Hasilnya kami nikmati saat ini,” kata Yudha.

Yudha menegaskan terjadinya penembakan dalam aksi demo damai itu sesungguhnya diluar daripada apa yang diharapkan dan tidak diinginkan.

“Kami datang, berdiri dan berkumpul di sini untuk hening, berdoa karena di tempat ini ada darah yang tumpah di sini. Darah ini kami tidak bisa lupakan. Karena dari perjuangan itulah saat ini karyawan PT Freeport bisa menikmati hasil-hasil kesejahteraan,” katanya.

Yudha menegaskan buah yang dinikmati oleh ribuan karyawan bersama keluarganya saat ini bukan jatuh begitu saja dari langit melainkan berkat perjuangan, keringat dan darah yang dipertaruhkan saat itu oleh para pendahulunya.

Yudha menyampaikan Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, R. Abdullah beberapa bulan lalu sudah mendatangi lokasi penembakan almarhum Petrus sekaligus bertemu dengan keluarga dan berencana membangun monumen di tempat kejadian.

Selain berencana membangun monumen, Yudha mengaku dari organisasi akan menjawabi janji untuk merenovasi makam almarhum Petrus di Tempat Pemakaman Umum (TPU) SP2.

Rencana pemugaran makan ini sebut Yudha akan dikoordinasi dengan Abraham Deda selaku Ketua Pimpinan Cabang FSPKEP SPSI Kabupaten Mimika.

Sementara Imelda Ayamiseba adik kandung Petrus Ajemsyeba dalam suasana haru meneteskan air mata. Imelda yang selama ini membesarkan keempat anak almarhum merasa terharu karena setelah 14 tahun sejak kakaknya dimakamkan baru kali ini pengurus FSP KEP SPSI Mimika datang mengunjungi kembali tempat almarhum ditembak dan menabur rampe di makamnya.

Imelda menuturkan, yang membuat keluarga sedih almarhum meninggal bukan karena sakit tetapi terkena tembakan.

“Tiap tahun kitong keluarga sendiri datang mau pasang lilin, organisasi tidak ada. Tapi kali ini saya senang organisasi ada datang di tempat ini,”  kata Imelda dengan linang air mata.

Imelda menuturkan semalam sudah pergi mengunjungi dan memasang lilin di kubur almarhum. Pada kesempatan itu, ia meminta kepada almarhum agar besok (Hari ini-red) datang sama-sama keluarga dan pengurus serikat pekerja ke tempat penembakan di Gorong Gorong serta kembali ke makannya untuk berdoa.

“Tadi kami mau ke sini susah sekali. Sudah pesan maxim tunggu-tunggu tapi selalu ditolak, tidak datang karena mereka takut masuk ke Kwamki Narama. Karena tadi malam terjadi panah lagi. Maka kami minta bantuan mobil patroli Polsek Kwamki Narama untuk antar kami ke sini,” tuturnya.

Dalam suasana hati sedih dan haru, Imelda didampingi ayahnya serta putra dan putri almarhum merasa senang yang hadir di tempat kejadian bukan hanya mereka sendiri tetapi ada rekan-rekan seperjuangan almarhum.

Ia juga menyampaikan setelah sekian tahun lamanya sejak kakaknya dikubur tanpa meninggalkan seribu rupiah. Namun, beberapa waktu lalu mendapat kunjungan langsung dari Ketua Umum PP FSP KEP SPSI, keluarga merasa seperti ‘mimpi’.

“Hanya tinggalkan janji yang banyak. Katanya mau bantu biaya pendidikan untuk anaknya, bangun rumah, perbaiki kubur ka tapi tidak ada sama sekali,” tutur Imelda.

Imelda dengan jujur menuturkan meskipun janji-janji itu belum ditepati keluarga tidak pernah marah dan menganggap semua masalah sudah habis serta biarkan kakak pergi dengan tenang.

Ia menuturkan sejak ditinggalkan almarhum anak-anaknya empat orang masih kecil hingga saat ini hidup sangat menderita. Saat ini anak pertama almarhum tidak hadir ada di tempat kerja dan anak perempuannya ada di tempat dulang mencari uang.

Ia berharap SPSI bisa pergi melihat rumah dan kubur almarhum.

“Jadi sejak dikuburkan kami kasih tinggal begitu saja kuburnya. Bukan kami tidak bisa cor tapi karena kami tunggu janji itu. Termasuk rumah almarhum yang sekarang ditinggal anak bungsunya juga sudah rusak, dibiarkan begitu saja,” tutur Imelda.

Ia menambahkan setiap Desember keluarga bersama keempat anaknya duduk kumpul ramai-ramai ke kubur almarhum, ganti cat yang sudah pudar, ganti kayu yang sudah mulai lapuk.  Setelah makan dan minum bersama baru pulang ke rumah.

“Kalau pas kakak punya ulang tahun kami kumpul-kumpul sedikit kue pergi duduk makan ramai-ramai di kuburan sana. Selesai kami pulang,” tuturnya.

Ia juga mengisahkan setelah kakaknya kubur, istrinya tinggalkan anak-anak pergi kawin lagi dengan laki-laki lain. Anak-anaknya tinggal bersama dirinya dan kakak adik dari almarhum.

Setelah menghening mengenang korban di lokasi penembakan, pengurus SPSI bersama keluarga berangkat menuju TPU SP2 untuk berdoa dan menaburkan bunga di makam almarhum.

Usai menaburkan bunga dan doa bersama di pusara almarhum, Ketua Pimpinan Cabang FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika, Abraham Deda menyerahkan bantuan kepada keluarga.

Dalam penyerahan bantuan itu, ia menyampaikan kepada keluarga untuk tidak melihat besar atau kecilnya bantuan melainkan ini murni merupakan diberikan organisasi kepada keluarga.

“Organisasi akan terus melakukan renovasi kepada rumah Pusara almarhum. Terima kasih kepada semua Pimpinan Unit Kerja yang ikut mendukung dan mensukseskan kegiatan ini sehingga berjalan baik,” kata Deda. **

1

Ketua Pimpinan Cabang FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika, Abraham Deda didampingi Elieser Kararbo, Sekretaris PC FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika dan Yuda Edwin Noya, Ketua PUK PT Freeport Indonesia bersama sejumlah karyawan yang merupakan pengurus PC FSP KEP SPSI SPSI Mimika foto bersama di pusara almarhum Petrus di TPU SP 2, Sabtu 10 Oktober 2026.

2

Ketua Pimpinan Cabang FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika, Abraham Deda didampingi Elieser Kararbo, Sekretaris PC FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika dan Yuda Edwin Noya, Ketua PUK PT Freeport Indonesia bersama sejumlah karyawan yang merupakan pengurus PC FSP KEP SPSI SPSI Mimika  foto bersama pemilik tempat yang menjadi lokasi penembakan, Sabtu 10 Oktober 2026. (Foto – Anton Juma Songa/papuaglobalnews.com).

4

Ketua Pimpinan Cabang FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika, Abraham Deda didampingi Elieser Kararbo, Sekretaris PC FSP KEP SPSI Kabupaten Mimika dan Yuda Edwin Noya, Ketua PUK PT Freeport Indonesia bersama sejumlah karyawan yang merupakan pengurus PC FSP KEP SPSI SPSI Mimika dan keluarga foto bersama di depan jalan lokasi penembakan, Sabtu 10 Oktober 2026. (Foto – Anton Juma Songa/papuaglobalnews.com).

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.