RP. Ono demikian biasa ia disapa oleh umat menyampaikan sebagai manusia kadang banyak bersyukur, dengan jenis atau levelnya masing-masing. Ada mengucapkan syukur dari hal kecil sembuh dari sakit flu berkepanjangan, batuk pilek dan bersyukur hasil panennya baik. Semua itu disambut dengan rasa senang, gembira dan suka cita.

“Pada hari ini semua berkumpul untuk menyampaikan rasa syukur atas usia pernikahan 50 tahun,” katanya.

RP. Ono dengan nada guyon menyampaikan pada perayaan 50 tahun ini namun wajah kedua yubilaris seperti masih usia 25 tahun. Semua umat yang mendengar disambut dengan tertawa suka cita.

Dengan rahmat suka cita ini, RP. Ono mengajak semua keluarga yang hadir harus bisa berdamai, bergembira dengan kondisi alam yang kurang bersahabat. Hujan juga bagian dari berkat dan rahmat dari Tuhan.

RP. Ono mengungkapkan bagi keluarga atau siapa saja yang mengenal kedua mempelai akan bertanya apa yang membuat kedua mampu bertahan dalam hidup perkawinan hingga usia emas.

Keduanya bukan sekadar bertahan sehingga masih terlihat awet muda. Baginya, sangat jarang melihat yubilaris merayakan usia emas datang tanpa tongkat atau kursi roda dengan usia sudah sepuh. Semuanya masih dalam kondisi sehat dan kuat. Ini semua sangat berbeda dengan pada umumnya diusia senja sudah berjalan dengan tongkat atau duduk manis diatas kursi roda.

Menurutnya kunci keduanya meskipun sudah usia 50 tahun pernikahan namun masih terlihat baru berusia perak karena memiliki dasar yang kuat yakni kasih.

Ini sesuai bacaan Pertama Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose berbicara tentang kasih. Karena dengan mengenakan kasih dapat menyatukan dan mengikat.

Pada bacaan kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma juga berbicara tentang kasih yang dimulai dengan kasih Allah yang telah dicurahkan kedalam hati kita oleh Roh Kudus. Begitu pula dalam Bacaan Injil berbicara tentang Kasih Allah. Allah yang Maharahim, yang setia mencari yang hilang.
Ia rela meninggalkan ke 99 ekor domba di padang dan mencari satu yang tersesat sampai ditemukan kembali. Setelah ditemukan Ia akan memanggil yang lain atau tetangga untuk merayakan kegembiraan itu. Ini bukti kasih Allah yang dicurahkan kepada manusia.

Dikatakan, kasih Allah itu sama halnya peduli, rela berkorban dan semua hal yang baik sebagai dasar hidup perkawinan kedua yubilaris.

Perkawinan dalam Gereja Katolik adalah kebersamaan hidup hingga akhir hayat. Antara seorang pria dan wanita atas dasar kasih. Kasih yang mempertemukan keduanya, kasih yang menyatukan dan kasih yang mengikat sampai kekal dan hanya maut yang bisa memisahkan.

Tujuan perkawinan untuk kesejahteraan pasangan suami istri dan kelahiran anak sebagai penerus.

Dalam pernikahan ini dari rahim mama Regina Rara lahir empat buah cinta mereka. Anak pertama bernama Emilia (+), Sr. Vernanda, Siprianus dan Afi.

Seorang putri dipersembahkan untuk Tuhan dan ketiganya dipersembahkan untuk Tuhan dan masyarakat melalui hidup berkeluarga.

Usai perayaan misa dilanjutkan dengan resepsi dan menari bersama. Suasana hati yang damai serta kentalnya kekeluargaan sangat terasa. Selamat berbahagia dan menjalani masa usia senja dengan suka cita om Hendrikus dan Mama Regina. **