Empirisme dan Krisis Persepsi: Membaca Kelangkaan BBM di Timika (Refleksi Filsafat Lock, Berkeley dan Hume)
Krisi BBM di Timika dengan demikian adalah krisis persepsi keberadaan negara.
Kebiasaan, Dugaan, dan Skeptisisme Sosial (Hume)
David Hume (1711-1776) memperingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mengetahuai sebab-akibat; kita hanya mengira berdasarkan kebiasaan pengalaman masa lalu. Warga Timika, yang berkali-kali menghadapi kelangkaan BBM, mulai menafsir:
“Pasti ada permainan di belakang layar.” “Kalau BBM langka, berarti ada yang menimbun.”
Hume akan menyebut ini customary inference, yaitu pola berpikir yang lahir dari pengalaman berulang, bukan dari pengetahuan pasti. Di sinilah muncul skeptisisme sosial: rakyat tidak percaya pada keterangan resmi karena pengalaman empiris mereka selalu berada dengan klaim institusi.
Empirisme Hume menunjukkan bahwa krisis BBM bukan hanya gangguan pasokan, tetapi juga keretakan epistemik antara pengalaman warga dan narasi pemerintah.
Refleksi: Krisis Persepsi dan Rehabilitasi Pengalaman
Dari Lock, Berkeley, dan Hume kita belajar bahwa pengalaman, persepsi, dan kebiasaan adalah tiga dimensi yang membentu kesadaran empiris masyarakat. Ketika negara gagal menanggapi pengalaman empiris rakyat, Ketika ia berbicara dalam data statistik, bukan dalam pengalaman antrean dan rasa frustasi, maka yang muncul adalah krisis persepsi: rakyat merasa ditinggalkan, negara kehilangan legitimasi epistemiknya.
Empirisme mengingatkan bahwa pengetahuan sejati lahir dari pengalaman yang hidup, bukan dari administrasi yang kaku.
Untuk itu, pemulihan kepercayaan publik di Timika tidak dapat dilakukan hanya dengan distribusi BBM tambahan, melainkan juga dengan restorasi persepsi, yaitu menghadirkan negara dalam pengalaman nyata rakyatnya.
Empirisme memberi kita pelajaran penting: realitas sosial bukanlah sekadar kumpulan data, tetapi jaringan persepsi yang dibangun dari pengalaman sehari-hari.
Krisis BBM di Timika adalah cermin dari jurang antara pengalaman empiris rakyat dan klaim rasional birokrasi.
Mengabaikan pengalaman rakyat berarti menutup mata terhadap sumber pengetahuan yang paling jujur. Sebab, sebagaimana dikatakan Berkeley: “Ada adalah dipersepsi.” Dan di Timika hari ini, yang dipersepsi rakyat bukanlah kehadiran, melainkan ketiadaan negara. (Isi tulisan tanggung jawab penulis)














