Timika,papuaglobalnews.com –  Selama tiga hari kedepan mulai Senin-Rabu, 5-8 Oktober 2026, Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudpar-Ekraf) Kabupaten Mimika, Papua Tengah berupaya tumbuhkan gairah pelaku seni budaya dan kuliner pangan lokal masyarakat Suku Amungme dan Kamoro (AMOR) melalui event festival seni budaya berlokasi di lapangan eks Pasar Swadaya Jalan Yos Sudarso.

Festival ini sejalan dengan tema yang diusung “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro”.

Di momen festifal itu menampilkan tarian khas Papua melibatkan anak sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK, kuliner pangan lokal seperti sagu bakar, ulat sagu bakar, siput bakar, keladi, patatas yang masih hangat. Selain tarian dan sajian  menu pangan lokal, juga melibatkan pelaku seni dari sanggar seni ukir dan anyaman dari kedua suku besar Amungme dan Kamoro (AMOR).

Festival Seni Budaya ini dibuka oleh Fransiskus Bokeyau, Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan SDM yang juga Plt. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika. Bagi masyarakat Mimika pecinta pangan lokal Kamoro, ukiran dan anyaman silakan kunjungi stand yang ada.

Elisabeth Cenawatin, Plt. Kepala Disbudpar dan Ekraf Mimika menjelaskan dalam festival seni budaya selain menampilkan pangan lokal yang disiapkan mama-mama Papua, melibatkan 30 pelaku seni kerajinan tangan ukiran, anyaman dan 29 sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK di Mimika. Anak sekolah ini lebih pada permainan alat musik akuistik tradisional, lomba cerita rakyat dan fashion show. Anak-anak yang menampilkan kemampuan dalam bermain alat musik akuistik tradisional mereka yang telah mengikuti latihan dan pembinaan dari Disbudpar-Ekraf pada 14-17 Juli 2026 lalu. Dalam pelatihan itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Nelinio Pieter Moses Parinussa, Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Indonesia (STAKIN) Jayapura, Dominggus Kapiyau sebagai pemusik Suku Kamoro dan Frans Timang sebagai pemusik Suku Amungme.

Ia menjelaskan berkaitan dengan lomba cerita ini sebelumnya Disbudpar-Ekraf Mimika mendatangkan tim ahli dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan melalui Balai Pariwisata dan Kebudayaan Papua. Tim ini turun langsung mendatangi masyarakat, tokoh adat Kamoro dan Amungme untuk merangkum semua informasi mengenai cerita rakyat yang sudah hilang untuk dihidupkan kembali. Salah satu kisah cerita warisan Suku Kamoro yang sudah ada tentang “Tete Mapuru”, dan saat ini sudah punya film dokumenternya namun belum dipublis secara luas kepada publik.

Sedangkan untuk peserta festival seni budaya sanggar ukir dan anyaman mereka yang telah mengikuti Pelatihan Manajemen Sanggar Amungme dan Kamoro di Aula Keuskupan Timika Loresa, SP3, Selasa 21 Juli 2026.

Mantan Plt. Asisten III Setda Provinsi Papua Tengah ini menekankan melalui festival ini diharapkan anak-anak AMOR sebagai generasi penerus tidak lupa akan identitas budaya dan tradisi sebagai jati diri mereka.

Festival budaya ini sebut Elisabeth akan menjadi program rutin Disbudpar-Ekraf Mimika yang diselenggarakan setiap tahun dengan harapan bisa masuk dalam Karisma Event  Nusantara (KEN) yang dicatat dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Ini bertujuan mengembangkan potensi pariwisata lokal, melestarikan budaya, dan menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah ini.

Sehubungan dengan perjuangan menuju KEN, Elisabeth merencanakan pada tahun 2027 nanti kembali selenggarakan Festival Budaya Kamoro Kakuru yang dibuat setiap tahun yang nantinya dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda).

Mengenai masih minimnya minat wisatawan dari luar untuk datang mengunjungi event festival budaya lokal Amungme dan Kamoro, Elisabeth mengaku sejauh ini Disbudpar-Ekraf Mimika masih kurang melakukan promosi kepada dunia luar.

Namun demikian, sebut Elisabeth saat ini sudah ada langkah kecil yang dibuat Disbudpar-Ekraf Mimika menghadirkan website sendiri yang berisikan tentang jumlah sangar, alamat atau lokasinya yang dapat diakses oleh siapa saja.

Selain itu bekerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskomonfo) Mimika dalam memperluas jangkauan publikasi.

“Kita akui kita kurang promosi. Tapi kita sudah buat rencana untuk kedepan kita akan perkuat promosinya. Rencana kami untuk Festifal Budaya Kamoro Kakuru jangkuannya hingga keluar Timika,” katanya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.