Mereka sedang kembali menjadi manusia.

Di situlah lahir satu bentuk humanisme yang berbeda.

Bukan humanisme yang berdiri sendiri, lepas dari langit.

Tapi humanisme yang berakar dari spiritualitas fitri.

Fazlur Rahman pernah menegaskan bahwa etika Islam bukan sekadar aturan moral, tetapi energi yang membentuk masyarakat yang adil dan manusiawi.

Dan mungkin, itulah yang kita lihat di sini.

Wahyu menjelma menjadi solidaritas.

Iman menjelma menjadi keberanian berbagi.

Yang lebih menggetarkan lagi: tawaran itu tidak selalu diambil.

Kaum Muhajirin memilih bekerja. Memulai dari nol. Mereka tidak ingin membebani. Mereka menjaga martabat.

Di titik itu, kita melihat dua hal sekaligus: ketulusan memberi, dan kehormatan menerima.

Seperti ditulis Sayyid Qutb, masyarakat Islam awal berdiri di atas keseimbangan antara solidaritas sosial dan tanggung jawab personal.

Tidak ada eksploitasi.

Tapi juga tidak ada ketergantungan pasif.

Persaudaraan ternyata bukan soal siapa memberi lebih banyak.

Tapi tentang bagaimana dua pihak saling menjaga.

Saya jadi berpikir: mungkin yang hilang dari kita hari ini bukan kemampuan untuk memberi, tapi keberanian untuk percaya.

Percaya bahwa ketika kita membuka pintu, kita tidak akan kehilangan apa-apa.

Justru mungkin menemukan sesuatu yang lebih besar.

Kepercayaan.

Dan di sinilah kisah lama itu berubah menjadi cermin.

Bukan hanya tentang masa lalu.

Tapi tentang kita hari ini.

Tentang bagaimana kita memperlakukan mereka yang datang dalam keadaan rapuh, para pengungsi, mereka yang terusir dari tanahnya, atau bahkan mereka yang asing di tanahnya sendiri.

Kita sering berbicara tentang pembangunan. Tentang kemajuan. Tentang keadilan.

Tapi diam-diam, kita masih hidup dalam logika hitung-hitungan.

Siapa untung.

Siapa rugi.

Siapa layak dibantu.

Siapa dianggap beban.

Lalu saya bertanya dan mungkin ini pertanyaan yang tidak nyaman:

Apakah kita benar-benar sedang menuju masyarakat madani?

Atau kita hanya membangun kota, tanpa pernah membangun hati?

Apakah kita sudah menjadi Anshar bagi sesama?

Atau kita masih sibuk menjadi pemilik yang takut berbagi?

Di tengah semua itu, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.

Persaudaraan sejati tidak pernah lahir dari kelimpahan.

Ia lahir dari kelapangan hati.

Dan mungkin, lebih dalam lagi: ia lahir dari kesediaan manusia untuk kembali pada fitrahnya.

Dari kisah itu, saya belajar satu hal yang sangat personal.

Bahwa memiliki seseorang yang mau hadir, mendengar, dan berjalan Bersama itu sudah lebih dari cukup.

Maka, belajar dari ketulusan kaum Anshar yang membuka pintu rumah dan hati bagi saudaranya, aku merasa beruntung memilikimu sebagai seseorang yang tidak sekadar hadir, tetapi juga menerima tanpa syarat, tanpa hitung-hitungan.

Untuk sahabat-sahabatku terkasih, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 hijriah . (*)