Oleh: Adii Tiborius

Makna “Sudah Selesai” dalam Misteri Salib

SERUAN “Sudah selesai” yang diucapkan oleh Yesus Kristus di kayu salib bukanlah ungkapan keputusasaan, melainkan deklarasi pemenuhan. Dalam Injil Yohanes, kata ini berasal dari istilah Yunani tetelestai, yang berarti “telah digenapi”, “telah dibayar lunas”.

Dalam terang teologi penebusan, penderitaan, luka, darah, dan wafat Kristus bukan sekadar tragedi, tetapi tindakan kasih yang total pemulihan relasi antara Allah dan manusia.

Secara doktrinal, salib menandai puncak solidaritas ilahi dengan penderitaan manusia. Allah tidak tinggal jauh dari luka dunia, tetapi masuk ke dalamnya.

Dengan demikian, setiap bentuk penderitaan manusia, baik personal maupun sosial mendapat makna baru dalam terang salib: bukan untuk dimuliakan sebagai penderitaan itu sendiri, tetapi untuk ditebus dan diubah.

Salib dalam Perspektif Kontekstual Papua

Ketika kita membawa makna “Sudah selesai” ke dalam realitas konkret di Tanah Papua, kita berhadapan dengan situasi yang kompleks. Berbagai laporan dan kesaksian masyarakat menunjukkan adanya pergumulan panjang terkait pelanggaran hak asasi manusia, ketidakadilan struktural, konflik sosial, serta marginalisasi terhadap masyarakat adat.

Dalam konteks ini, salib tidak lagi hanya simbol religius, tetapi menjadi simbol eksistensial. Banyak orang Papua hidup dalam pengalaman “memanggul salib” mereka sendiri dalam bentuk kehilangan, ketidakpastian, dan ketidakadilan.

Pertanyaannya menjadi sangat mendalam: bagaimana memahami “Sudah selesai” di tengah realitas yang tampak belum selesai?

Jawabannya terletak pada dimensi eskatologis dan profetis dari iman Kristen. “Sudah selesai” bukan berarti semua persoalan dunia langsung lenyap, tetapi bahwa dasar keselamatan telah diletakkan. Penebusan telah dimulai, dan manusia dipanggil untuk ambil bagian dalam mewujudkan keadilan itu di dunia nyata.

Teologi Salib sebagai Kritik terhadap Ketidakadilan

Dalam tradisi teologi, khususnya teologi pembebasan, salib dipahami sebagai kritik radikal terhadap segala bentuk penindasan. Yesus disalibkan bukan hanya karena alasan religius, tetapi juga karena struktur kekuasaan yang tidak adil pada zamannya. Dengan demikian, salib adalah tanda bahwa Allah berpihak pada korban, bukan pada penindas.