Misa Kamis Putih: RP. Gabriel : Perjamuan Kudus Mengingatkan Kita Tidak Boleh Ada Orang yang Kenyang Sendiri
Timika,papuaglobalnews.com – Umat Kristiani di seluruh dunia termasuk di Paroki Santo Stefanus Sempan Timika wilayah Keuskupan Timika kini memasuki gerbang Tri Hari Suci, yang diawali dengan perayaan ekaristi Kamis Putih menyusul Jumat Agung dan Sabtu Paskah. Untuk perayaan ekaristi Kamis Putih, Kamis 2 April 2026 di Paroki Santo Stefanus Sempan misa pertama dimulai pukul 16.00 WIT dipimpin oleh RP. Gabriel Ngga, OFM, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan. Dalam perayaan mengenang kembali pembasuhan kaki dan perjamuan terkahir Yesus bersama ke 12 murid-Nya dihadri ribuan umat Katolik.
Gabriel dalam pengantar awal perayaan menyampaikan pada sore atau malam hari ini, umat Kristiani mulai memasuki gerbang Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Paskah). Umat berkumpul dalam perayaan ekaristi kudus ini bukan sekadar mengenangkan perisitwa 2000 tahun lalu, melainkan untuk menghadirkan kembali semangat Yesus di tengah umat manusia yang hidup di tanah Papua, khususnya di Kabupaten Mimika.
Malam Kamis Putih merupakan malam tentang kasih yang melampui batas. Malam dimana mengenang kembali Yesus melaksanakan perjamuan bersama para murid-Nya dengan memecah-mecahkan roti kemudian dibagikan kepada para murid-Nya.
“Ini menjadi simbol mengajarkan kepada kita semua sekalian, bahwa harus berani memecahkan hidup kita dan berbagi agar orang lain juga hidup,” ujar RP. Gabriel.
Melalui momen Kamis Putih ini, hendaknya Yesus mau mengingatkan kepada semua umat manusia untuk saling melayani, saling peduli dan saling memperhatikan satu dengan yang lain.
Sementara dalam homili, RP. Gabriel menegaskan, dalam injil mengisahkan tentang Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan membasuh kaki merupakan suatu bentuk yang sangat rendah pada zaman itu. Sebab kaki merupakan bagian tubuh yang paling kotor karena debu jalanan.
Menurutnya, dengan membasuh kaki, Yesus hendak mengajarkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukan tentang jabatan dan kekuasaan melainkan pengabdian, pelayanan dan turun merendahkan diri. Lewat tindakan ini, Yesus sangat berharap agar dapat ditiru oleh para murid-Nya.
“Jika Aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki,” ujar RP. Gabriel mengutip kata-kata Yesus dalam bacaan Injil.
Membasuh kaki berarti mau mendengarkan rintihan sesama manusia. Mau mendengarkan jeritan saudara-saudari yang tertindas dan yang menjadi korban kekerasan. Membasuh kaki mau mendengarkan keluh kesah mama-mama yang berjualan di pasar demi sesuap nasi dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

























